23 December 2007

tentang sosok alpha

Istilah ini pertama kali saya temukan ketika membaca buku Yann Martell, Life of Phi. Dan saya temukan lagi beberapa waktu lalu ketika sedang blogwalking.

Saya pribadi tidak bisa mendeskripsikan apa sebenarnya maksud dari 'sosok alpha'. Tapi kira-kira saya tau artinya.

Dan menoleh ke belakang, dalam benang-benang kehidupan saya yang lalu, sosok itu pernah ada. Dia menghuni dunia saya, dengan mudahnya bisa mengubah kondisi emosional saya sesuai yang dia mau. Lebih tepatnya, kebahagiaan atau kesedihan saya tergantung pada apa yang dilakukan atau tak dilakukan oleh sosok ini. Kalau Anda pernah mendengarkan lirik lagu yang menurut Anda mustahil ataupun terlalu klise semisal "you're the reason I breath" atau semacamnya, saya merasakan hal itu pada sesosok alpha ini.

Barangkali dia tak sadar, kalau sebegitu dahsyatnya pengaruh perlakuannya bagi emosi saya. Sehingga - yah, namanya juga makhluk dari mars - yang lebih sering yang dilakukannya justru yang lebih memiliki efek negatif bagi saya. Dan saya tak bisa menjelaskan pada dia seperti membuka peta dunia untuk pelajaran geografi. Perasaan adalah sesuatu yang absurd, bukan? Tak terukur.

Dan bukan salahnya juga kenapa masih ada banyak pertanyaan di kepala saya mengenai dia. Sampai saat ini. Barangkali akan saya tanyakan nanti kalau kami bertemu.

Waktu dan saya, yang membuat dia tak lagi menjadi manusia alpha. Dan ketika saya menyadari ini, saya berjanji pada diri saya sendiri, untuk tidak lagi menempatkan satu sosok alpha lain dalam hidup saya.

Menggantungkan diri kita pada seseorang tak pernah menyenangkan, bahkan jika mencintai diri kita sendiri adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan.

01 December 2007

solitude

ada lagu coldplay yang terasa begitu pas untuk suasana dingin ini...
dan ada hati yang sedang kangen di sini...

: kangen kamu

Quickie Express

Saya harus mengakui bahwa saya jarang banget nonton film Indonesia. Apalagi suka. Yang paling bikin saya males nonton adalah ketakutan saya untuk - lagi-lagi - dikecewakan. Sampai detik ini, cuma ada beberapa film yang menurut saya bagus. Bukan karena siapa yang main, siapa sutradaranya atau bagaimana gambarnya dibuat. Bagi saya, film adalah satu paket. Ketika the whole package itu bisa membuat saya terhipnotis sampai memikirkannya beberapa saat kemudian, berarti film itu bagus, menurut saya. Dan tersimpan dalam boks 'film bagus' di ingatan saya. Subyektif, memang. Tapi ketika berhubungan dengan selera, subyektifitas tak bisa diabaikan adanya.

Kurang dari lima, film Indonesia yang masuk di dalam boks. Yang menempati urutan teratas (kalau niat dibikin rating), tentu saja ARISAN! Penceritaan yang menarik, dialog yang menggelitik (yang saya sampai hafal), alur yang enak diikuti, juga karakter yang kuat dari tokoh-tokohnya. Tidak hanya itu. Saya juga harus angkat dua jempol untuk pihak-pihak dibalik meja editing, yang membuat jalan ceritanya jadi lebih menarik. Kalau tidak salah, beliau adalah Dewi S. Alibasah.

Sekian dulu tentang Arisan! Barangkali akan saya tulis mengenainya lebih panjang dalam posting selanjutnya. Tapi kali ini saya ingin bercerita tentang film yang saya tonton semalam, yang saat ini sedang berada di lorong untuk masuk ke dalam boks saya. Saya tidak tau apakah saya menyukainya. Mengenai kesan, ya...memang saya sedikit terkesan. Apakah saya memikirkannya, setelah melewati lorong exit gedung bioskop? Jawabnya iya! Bahkan sampai bangun tidur tadi pagi, saya sekilas masih mengingat beberapa adegan. Hanya saja, film ini serupa gado-gado. Ingin menyatukan dua genre. Di satu sisi, ada humor yang sangat slapstik yang membuat kita tertawa sambil memegangi perut. Lima menit kemudian, kita dibawa dalam drama haru biru yang entah kenapa, bagi saya masih sedikit ada humornya. Dan hati saya mengatakan, itu sedikit kurang pas. Tidak seperti Arisan!, ketika diceritakan Memey ditinggal oleh Ical, saya jadi tercenung dan seolah ikut merasakan penderitaannya

Tapi secara keseluruhan, saya merekomendasikan film ini untuk ditonton bareng pacar atau teman se-geng. Tidak disarankan untuk yang lagi nge-date pertama, soalnya susah buat jaim kalau bawaannya pengen ngakak terus. Ada beberapa adegan yang sampai saat ini masih terekam kuat di ingatan saya. Seperti misalnya adegan kejar-kejaran antara dua orang. Ketika capek, si terkejar dan si pengejar mendadak menghentikan aksinya bersama-sama untuk menarik nafas, dan beberapa detik kemudian melanjutkan aksi kejar-kejaran tadi. Ini mengingatkan saya pada sebuah humor lama. Juga adegan agak-agak klasik ketika Ira Maya Sopha menangis dengan latar belakang laut biru. Didukung dengan music score yang tepat, adegan tadi seolah mengingatkan kita pada vcd karaoke lagu-lagu evergreen.

Yang sangat saya sayangkan adalah porsi tampil Lukman Sardi yang menurut saya, cuma sedikit. Sebenarnya saya tak ada masalah dengan porsi tampil Tora Sudiro yang memang juga adalah sang tokoh utama. Tapi rambutnya itu entah kenapa, sangat mempengaruhi image dia di mata saya. Rambut Tom Hanks dalam The Da Vinci Code juga tak bisa dibilang berselera, tapi setidaknya dia memerankan peran serius sehingga konsentrasi penonton tidak melulu pada urusan rambut.

Anyway, film besutan Dimas Djay ini tidak mengecewakan. Saya sudah menunggu sekian lama untuk menikmati karya pria maskulin satu ini, yang sebelumnya lebih sering berurusan dengan video klip. Tapi siapa bilang sutradara video klip tak piawai membuat film? Ingat, beberapa film pendek yang dibintangi oleh para bintang Lux? Yang paling membuat saya terkesan sampai sekarang adalah "(Bukan) Kesempatan Yang Terlewat" yang menampilkan pasangan Dian Sastro-Christian Sugiono. Tidak engherankan bagi saya yang emang pecinta road movie. Perjalanan, kereta, sketsa, dan Sekali Lagi-nya Ipang ternyata mampu membuat saya menangis berkali-kali ketika ingat. Tebak siapa sutradaranya! Lasja Fauzia, yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara videoklip.

04 November 2007

sore itu...

Kala itu, dua puluh tiga oktober. Sore hari. Kamu menemaniku di studio, bekerja. Ada satu detik, ketika kamu memegang jemariku. Dan menarik tubuhku untuk mendekat. Kakiku mendesir ke arahmu. Itu adalah putaran dansa paling indah yang pernah aku lakukan. Studioku menjadi ballroom kita. Dan kita berciuman. Lantas tertawa.

Menarik sekali, Sayang. Aku ingin mengulanginya.

Dan kita lakukan sekali lagi. Tak seindah yang pertama. Tapi tak apa. Bersamamu, semua hal selalu menyenangkan.

26 October 2007

it takes two to tango

Saya ingat salah seorang sahabat saya yang sering sekali mengucapkan kata tersebut. Dia berulang tahun hari ini. Dan dia selalu menyenangkan untuk diajak curhat seputar relationship.

Oh ya, kekasih saya sedang sakit saat ini. (Anyway, baru kali ini saya menyebut dia kekasih, dan ternyata rasanya enak sekali). Sebenarnya saya ingin disampingnya, sekedar membenarkan selimut yang melorot ketika dia tidur atau duduk saja, siapa tahu dia terjaga dan ingin minum.

Tapi dia mengatakan tak apa dan ingn sendirian serta berharap saya bisa menjaga diri, sehingga saya memutuskan untuk mengisi ulang tabung perasaan saya. Membaca blog-blog tetangga yang membuat saya ngakak, tersenyum simpul dan...tentu saja hobi saya, menangis haru.

Dan saya menemukan kalimat itu.

It takes two to tango.

Dan kalimat itu berujung ke masa lalu. Ke hubungan-hubungan yang telah tidak berhasil (maaf, saya enggan menyebut gagal). Kenapa kira-kira? Pernahkah Anda mempertanyakan ini pada diri Anda sendiri?

Kata sahabat saya, it takes two to tango. Ketika yang satu capek dan ingin berhenti,maka hubungan itu tidak lagi sebuah hubungan. Lebih baik tidak diteruskan. Menyakitkan memang. Tapi jika diteruskan, juga untuk apa? Hanya akan menjadi adang penyiksaan bagi keduanya.

Memutuskan untuk berhubungan dengan seseorang adalah hal yang mudah. Menemukan bahwa ia istimewa dan membuat keputusan untuk mempertahankan hubungan jauh lebih sulit. Kadang kita harus meredam kekecewaan. Kadang kita harus tersenyum ketika dia membutuhkan dukungan, sementara badan kita juga letih membutuhkan pijatan. Kadang kita ingin dipeluk tanpa tahu bagaimana mengucapkannya.

Apapun itu, hubungan mengandung sesuatu yang kompleks. Sikap mengerti, keinginan untuk memahami, kebersediaan untuk mengabaikan ego, kemauan untuk menjaga komitmen. Semua, yang mampu menjaga apa yang sudah ada, untuk tetap ada.

PS: Inget, kemarin sore kekasih saya tiba-tiba memeluk saya tanpa mengucapkan kata-kata, tapi kira-kira saya tahu maksudnya... Saya merasakan tubuh saya perlahan menjadi seringan udara, dan segalanya melebur tak terperi. Indah sekali.

23 October 2007

tentang airmata

Semalam, untuk pertama kalinya saya tidur sendiri di kamar dengan lampu padam. Dua hari terakhir kondisi mental saya benar-benar chaos. Ada satu peristiwa yang memusarakan saya dalam sedih. Dan pengaruhnya demikian hebat sampai membuat kacau sesuatu yang seharusnya baik-baik saja.

Saat itulah saya menyadari betul, bahwa jargon iklan kopi yang saya minum setiap pagi "one thing leads to another" benar-benar tampak nyata. Tapi saya bisa apa? Saya juga tidak menginginkan chaos ini terjadi ketika orang yang saya inginkan ada juga sedang menghadapi banyak masalah. Sehingga ia tidak bisa ada.

Saya tahu bahwa dia menginginkan saya untuk menjaga diri, bahkan ketika dia tak ada. Saya juga menginginkan hal yang sama. Hanya saja, saya tidak selalu bisa sekuat yang dia harapkan.

Katup airmata saya akhirnya tak mampu lagi bertahan. Saya ingin menangis, tapi kalau saya membiarkan lampu menyala terang, ada perasaan bahwa sekian paang mata sedang memusatkan perhatian kepada saya. Dan maaf, airmata saya bukan untuk konsumsi publik.

Akhirnya saya mematikan lampu.

Dan saya menangis...
Banjir airmata di bantal, guling dan selimut...

Lega? Rasanya nggak! Permasalahan tidak sendirinya berhenti kalau kita diam berpangku tangan.
Tapi yah, memang terasa ada satu beban yang berkurang.

Adakah obat untuk kekacauan hati selain airmata?

09 October 2007

age is just a number

Semalam, salah seorang teman mengatakan ini:

"Age is just a number. I don't even fucking care!"

Saya tercenung mendengarnya. Benar juga. Orang-orang di lingkungan kita tampaknya sudah sangat terbiasa untuk peduli - untuk tidak menyebut nyinyir - dengan orang-orang di sekelilingnya. Parahnya, adalah ketika mereka mengukur segala berdasarkan isi kepala mereka. Menempatkan foto orang lain dalam frame mereka. Termasuk dalam hal usia.

Kalau usia dijadikan batasan untuk menentukan kebijakan seperti misalnya hak pilih yang secara otomatis dimiliki oleh setiap warga negara berusia di atas 17 tahun, itu saya tak mempermasalahkan. Tapi ketika usia digunakan untuk mengukur sesuatu yang absurd, kok rasanya kurang pas ya? Masalahnya setiap orang memiliki fase kehidupan yang berbeda. Lingkungan pergaulan, bahan bacaan, film yang ditonton, akan membuat setiap manusia menjadi sosok unik nan istimewa. Masalahnya, ada segelintir orang yang kurang bisa menerima perbedaan. Dan akan lebih sulit lagi kalau itu adalah orang yang dekat dengan kita. Keluarga misalnya. Untuk teman-teman yang masih single, sering kan, dengan kalimat seperti ini di acara kumpul-kumpul keluarga?

Sudah dua puluh empat, kok nggak cari pacar? Mau menikah di usia berapa?

Tak ada peraturan tertulis yang mengatakan bahwa gadis berusia dua puluh empat tahun harus sudah punya pacar, yang sebentar lagi akan mengajaknya menikah. Ah, kadang-kadang masih lagi ditambah dengan kalimat embel-embel yang bagi saya tak masuk akal.

Nggak usah pilih-pilih. Nanti malah nggak dapat. Yang penting baik, saleh dan hormat pada orang tua

Bukannya saya nggak menghargai pemikiran praktis semacam di atas, tapi memang di jaman sekarang, rasanya pemikiran seperti itu kok terkesan menyepelekan ya? Kita sedang berbicara mengenai pasangan lho, bukan piring atau sendok garpu yang semata-mata fungsional. Asal bisa buat makan dan bersih, cukup. Kalau pasangan hidup dinilai secara fungsional saja, ya memang gampang. Asal bisa bikin anak, yah...bolehlah.

Tapi kita membutuhkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih bermakna di sini. Sesuatu yang tak dapat diukur. Sesuatu yang kita biasa sebut chemistry. Sesuatu yang akan membuat kita bertahan dari apapun.

Jadi, untuk apa usia dijadikan pembatas kehidupan. Apapun itu, itu hanyalah sebuah fase, dan tidak semua orang harus melewatinya dalam satu batas yang sama.

Some say, life begins at 40. Some other say, life begins at 30.

For me, life begins at every age of your life, as long as you want to...

04 October 2007

namanya?

Kalau pengen ketemu, pengen dengar suaranya, pengen dicium kening olehnya, pengen dipeluk olehnya, namanya...?
*kangen mode on*

02 October 2007

tentang buka puasa yang tak terlupakan

Semalam, saya janjian buka puasa bareng si Devil. Setelah meninggalkan jaket saya di tempat kerja dan ijin buka puasa sebentar, akhirnya kami muter-muter cari tempat makanan. Dulu, setiap kali berangkat kerja, saya selalu melewati satu tempat yang menguarkan bau sedap. Saya mengusulkan tempat itu dan Devil setuju. Dibilang ramai. sebenarnya nggak terlalu. Lagipula, tempat duduk yang disediakan juga tak terlalu banyak.

Kira-kira lima belas menit setelah memesan, tak ada tanda-tanda makanan saya diantarkan. Dua orang datang dan mengambil tempat duduk di sudut dekat kami. Saya dan Devil saling bertukar cerita, dan semakin lama saya merasa cemas. Hampir tiga puluh menit berlalu, pelayan berlalu lalang, dan tak satupun mampir ke meja kami. Kalau begini, saya pasti terlambat bekerja. Sampai akhirnya saya menelpon seseorang di tempat kerja untuk minta perpanjangan waktu.

Begitu melihat dua orang di sudut yang datang lima belas menit setelah saya mulai menikmati pesanannya, saya geram. Saya hendak beranjak, tapi tangan Devil menahan saya. Dia akhirnya yang turun tangan menanyakan pesanan kami.

+ Mbak, kami sudah pesan dari tadi, tapi kok malah mas itu yang lebih dulu dilayani?
- Oh, itu karena mas tersebut memesan xxx
+ Memangnya kenapa kalau mas itu memesan xxx
- Soalnya lebih cepat Mas, bikinnya. Atau Mas mau pesan xxx

F**k! Maaf, kata ini yang keluar, karena saya tak tahu kalau ada ungkapan lain yang memiliki intensitas sama. Lebih menyebalkan lagi, menu yang dihidangkan ternyata salah.

Ketika dengan orang lain, saya pasti bakal menggerutu semalaman, tapi dengan Devil tak pernah sama. Dia membuat saya tertawa dan melupakan semua kekesalan, juga melupakan rasa bersalah karena akhirnya tak jadi berangkat kerja.

Lupakan, dan jangan lagi menginjakkan kaki ke sana. Itu yang akan dia lakukan. Ya, saya juga akan melakukan hal yang sama.

Dan dengan berakhirnya malam, saya menyadari sesuatu. Bolos kerja untuk melakukan hal-hal yang 'absolutely nothing' ternyata sangat menyenangkan.

15 September 2007

you, and every little thing that you are...

Jam sebelas, menjelang tengah malam saya terbangun. Entah kenapa, tiba-tiba tergerak untuk menelusuri jejaknya. Saya mengambil potongan-potongan kertas yang berisi alamat email, blog, nomor-nomor telpon, untuk mencari kertas kecil itu. Ya Tuhan, jangan sampai hilang...

Kertas kecil yang merupakan kunci hidup saya... awal pertemuan saya dengan 'dia'. Hanya berukuran dua kali dua sentimeter, berupa potongan dari sebuah brosur entah apa. Ada satu alamat email yang merupakan akronim dari beberapa kata, yang baru saya ketahui artinya belakangan ini. Saya juga pernah, menyebut diri sendiri dengan konyol. Oh, dan ada satu lagi tulisan di kertas itu berupa nama yang terdiri dari empat huruf, membentuk satu suku kata. Konsonan-vokal-vokal-konsonan.

Kertas itu masih ada di sana, lecek karena seringkali saya pegang ketika kangen kerap datang. Saya bertemu dia hampir setiap hari. Menghabiskan waktu dengannya telah masuk dalam menu agenda. Tapi sering, ketika dia tak ada, dalam jeda-jeda yang bisa saya dapatkan ketika tengah bekerja, saya membuka kembali lipatan kecil kertas tersebut.

Dan semuanya kembali terekam. Obrolan tentang Heroes, bahasa Perancis, koleksi pre-fall Marc Jacobs, Alek Wek, Waris Dirie, Youtube, posting saya mengenai bule yang ingin dianggap sebagai orang lokal, yang akhirnya menimbulkan sedikit kikuk ketika waktu habis dan dia, mau tak mau harus pulang. Saya beruntung karena tidak semua hal berakhir malam itu. Kami saling meninggalkan jejak.

Banyak hal yang terjadi sesudahnya dan saya masih ingat setiap intensitas rasa yang ditimbulkan. Amazed, ketika dia membalas pesan pertama saya. Patah hati, ketika pesan saya sempat tak dibalasnya selama tiga hari (belakangan dia mengaku, memang membiarkan saya menunggu, dasar!). Dan luar biasa lega ketika akhirnya dia menuliskan nomornya, satu lagi jejak yang lebih dalam...

Barangkali saya harus berkonsultasi dengan ahli bahasa untuk menentukan satu kosakata baru yang bisa menjelaskan hal luar biasa yang saya rasakan sekarang, ketika dia bukan lagi sekedar teman bertegur sapa. Dia menjadi orang terakhir yang menyapa saya sebelum tidur setiap malamnya, orang yang membawakan keranjang belanja ketika saya sibuk memilih tissue, orang yang selalu menjemput saya pulang kerja menjelang tengah malam, orang yang menggenggam tangan saya ketika saya kesakitan pada haid pertama, orang yang menyebut saya pencuri hati, orang yang membuat orang lain tak lagi tampak, orang yang ingin saya ajak berbagi tawa dan tangis... dan satu hal lagi, dia adalah orang yang saya ingin temui ketika saya pulang nanti...

For you... you know who you are
and you know I love you...
you, and every little things that you are...

kepada mereka kita berhutang pahala

Hm... nggak terasa ya, ramadhan lagi. Bagi saya, bulan ini selalu sama. Namun, karena datangnya sebulan sekali ya, mau nggak mau itu menjadikannya istimewa. Kalau buat saya, itu juga berarti nambah isi kantong karena harus siaran pagi, nemenin orang-orang sahur.

Sayang sekali, saya nggak bisa membuka ramadhan kali ini. Biasa, urusan dari ladies room. Tapi ketika berangkat kerja menjelang maghrib di hari pertama, saya melihat hari itu sudah beda dari hari-hari sebelumnya. Jalanan lengang, karena barangkali sebagian kantor memperpendek jam kerjanya. Semua kursi restoran, warung, rumah makan yang saya lewati penuh sesak. Dari makanan padang, warung ikan bakar hingga steak.

Dan saya lihat, semua karyawannya rata-rata sibuk melayani tamu-tamu ini sehingga tidak ada kesempatan untuk menyiapkan menu berbuka mereka sendiri. Barangkali banyak di antara mereka juga yang berpuasa. Dan mereka harus memperlambat jadwal buka untuk menyiapkan menu buka puasa untuk orang lain. Meskipun saya nggak yakin pahala bisa dihitung-hitung, tapi sadar nggak sih, kalau kita berhutang sesuatu sama mereka? Apapun itu namanya.

Oh ya, satu hal lagi yang khas dari bulan puasa. Apalagi kalau bukan kolak pisang. Meskipun ada es cincau, es campur, cocktail atau aneka menu buka yang lebih menggiurkan, rasanya kok kurang afdol kalau tidak ada kolak pisang ya? Dan meskipun kemarin saya tidak ikut berpuasa, I was dying so much to eat kolak pisang, sampai harus merayu mas-mas penjual pulsa untuk mengetok pintu penjual kolak pisang yang sudah membereskan dagangannya. And guess what? I was lucky :)

PS: Selamat berpuasa buat semuanya...

09 September 2007

hanya dia

Belakangan ini saya seperti diserang satu sindrom yang entah apa namanya, terlalu kompleks untuk dijelaskan. Semakin jarang mengup-date blog. Sebenarnya setiap hari saya menulis, hanya saja tak pernah sanggup melanjutkan. Paragraf-paragraf itu lantas berakhir di draft. Dan tak pernah lagi saya buka.

Bukan berarti saya malas, atau tak mampu memfokuskan diri. Tapi karena ada hal yang sangat ingin saya ceritakan pada Anda, teman-teman saya, dan saya mau segalanya serba sempurna. Karena dia, yang ingin saya ceritakan ini, adalah sosok yang demikian istimewa bagi saya. Kalau hari-hari belakangan ini ada yang melihat saya sedang tersenyum sendirian di tengah-tengah siaran, melamun, atau ketika melakukan aktivitas lainnya, ya! Dia adalah penyebabnya. Hanya dia, cuma dia.

Dengan menunda bercerita, justru saya merasa berhutang banyak. Bukan pada dia, karena dia juga tidak pernah memintanya. Bukan juga pada siapa yang akan saya bagi cerita ini, toh tidak semuanya akan peduli. Tapi pada diri saya sendiri, karena kisah bahagia ini tidak selayaknya saya simpan sendiri. Bahagia? Ya, karena dia, hanya dia!

01 September 2007

hidup tidak berakhir hanya dengan sebuah 'yes, Ido'

Sewaktu Anda kecil, pasti (setidaknya sekali) pernah bersentuhan dengan fairy tale kan? Meskipun terdiri dari bermacam variasi, namun intinya selalu sama. Pangeran dan putri, dalam berbagai bentuk dan perwujudan. Dan satu hal lain yang menyamakannya adalah ending. Ciuman dalam kotak kaca, ciuman di balkon, ciuman di lantai dansa. And the story ends.

Begitu juga dengan komedi romantis, salah satu tontonan kesukaan saya. Selalu hadir dengan plot yang sama. Bertemu, konflik dan berakhir dalam sebuah ending yang mampu melelehkan hati, pada sebuah 'yes, I do'. Meskipun selalu berakhir dengan happy, namun hampir selalu membuat saya menangis lantaran terharu.

Sayangnya, dalam kehidupan nyata, skenario selalu tak tertebak. Dan ketika berurusan dengan hati, komedi romantis dan fairy tale tidak bisa dijadikan patokan.

Banyak orang mengatakan jatuh cinta itu sulit. Bagi saya, memutuskan untuk terus bersama dengan seseorang itu lebih sulit lagi. Karena susunan struktur tubuh manusia yang rumit, pada akhirnya membawa karakter emosional yang bahkan lebih rumit lagi. Di sinilah akan terjadi benturan-benturan dan gesekan-gesekan yang sebenarnya tak diinginkan. Tapi kita juga diberi pilihan untuk melapangkan atau menyempitkan hati. Kalau saja kita mampu mengatur keseimbangan, maka segala macam gesekan dan benturan itu tak lagi ada artinya. Akan tetap ada, hanya tidak mengganggu saja.

Fairy tale dan komedi romantis berdurasi terlalu singkat sehingga tidak memungkinkannya memuat semua kompleksitas di dunia nyata. Lagipula, apa sih yang mereka lakukan. Pekerjaan pengeran hanyalah berkuda, latihan berkelahi dan mencari istri ke pelosok negeri. Satu jenis kehidupan yang tidak perlu pusing bila harga susu yang melambung naik atau tidak ada stress karena dikejar deadline.

Dan sebenarnya, apa sih moral lesson yang coba saya sampaikan? Nggak ada. Kalau Anda kebetulan membaca dan mengena, yah, barangkali kehidupan Anda sedang sedikit rumit sehingga tulisan apapun yang Anda baca tampaknya bersinggungan dengan kehidupan pribadi Anda. Tapi sungguh, saya tak bermaksud apa-apa dengan tulisan ini.

udah makan belum?

Bagi para pria, ada sedikit tips nih. Kalimat yang saya tulis sebagai judul, adalah kalimat yang lebih ampuh daripada sekedar 'kamu cantik banget'. Kalimat tersebut mampu membuat hati jutaan gadis di seluruh Indonesia mendadak meleleh.
Saya tidak tau apakah ada cabang ilmu psikologi yang mempelajari hal ini. Tapi saya adalah salah satu dari jutaan gadis di seluruh Indonesia, dan saya kerap kali meleleh tiap mendapat sms berisi kalimat tersebut dari crush saya. Ingat ya, hanya dari crush saya. Kalau dari teman biasa, itu sih tidak ada artinya.
Tapi saya tidak menganut prinsip generalisasi, jadi kalau Anda menyukai gadis yang agak unik, barangkali tips satu ini tidak akan berlaku. Jadi Anda harus lebih kreatif lagi untuk bisa membuatnya meleleh.

25 August 2007

say it!

"Ken... maafin aku yang tidak pernah bisa menjadi seperti yang kamu harapkan. Aku sayang sama kamu, please jaga diri baik-baik. Janji sama aku kamu bakal hidup dengan baik... sekali lagi maaf karena kadang aku menjadi sahabat yang kurang perhatian sama kamu"

Begitu kira-kira kata seorang sahabat saya ketika dia putus asa. Tau kan, ini adalah kalimat yang biasa digunakan ketika seseorang benar-benar pamitan. Untunglah, otaknya masih menyisakan sedikit ruang untuk kesadaran, sehingga rencana tersebut urung dilakukan. Saya senang, karena saya belum ingin kehilangan dia. Belum begitu banyak yang kami lakukan bersama.


Dan sebenarnya bukan itu yang menjadi inti cerita saya sekarang.

Tapi mengenai perasaan menyesal, yang pasti pernah dialami oleh siapapun. "Seandainya dulu saya..." setidaknya beberapa kali dalam hidup, kita pasti pernah mengucapkan kalimat pembuka tersebut.

Salah? Tentu saja tidak! Justru, hal itu sangat manusiawi. Hanya saja barangkali kita mempu meminimalisirnya dengan bersikap bijak terhadap waktu. Kita tak pernah mengerti berapa lama waktu yang tersedia bagi kita untuk melakukan atau mengatakan. Ketika kita tahu bahwa 'inilah saatnya', kadang timbul sesuatu -barangkali semacam sekat di hati- yang membuat kita menunda, dan terus menunda. Hingga waktu yang tersedia untuk kita perlahan terenggut habis.
Dan kita tak pernah bisa memutarnya kembali.

Saya pernah mendengar seseorang bicara, ketika kita mengikatkan diri pada keraguan, itu berarti kita mundur beberapa langkah. Seorang lainnya mengatakan, konon kita tidak akan pernah tau dengan siapa kita akan bertemu nanti. Dan ijinkan saya menambahkan, tidak ada seorangpun juga yang bisa menduga apa yang akan terjadi di detik berikutnya.

Saya juga pernah membaca sepenggal kalimat 'detik ini berarti hanya karena ialah detik ini'. Dan kenapa kita menyia-nyiakan sesuatu yang berarti ini untuk sesuatu yang lain yang kita sendiri tak pernah tau akan dibawa kemana? Be brave, say it!

22 August 2007

tentang bapak murah senyum

Saya tak pernah tahu namanya, meski tiap hari bertemu. Usianya sekitar 70 tahun, dan ketika tersenyum, beberapa giginya terlihat telah tanggal. Setiap kali kami bertemu, saya selalu melihatnya melakukan sesuatu untuk mempercantik masjid. Menyapu, mengepel, membersihkannya dari dedaunan, mengelap kaca jendela, apa saja. Dan mesjid bercat hijau itu memang selalu terlihat cantik, bersih dan terawat.

Awalnya saya tak pernah menyadari keberadaan bapak ini. Hanya saja setiap saya lewat dia selalu tersenyum dan menganggukkan kepala kepada saya. Satu hal yang tidak aneh kalau kalian tinggal di Jogja. Beberapa menit kemudian saya sudah akan melupakannya. Wajahnya tergantikan oleh lalu lalang kendaraan yang saya lihat ketika menyebrang jalan, kertas-kertas pekerjaan dan monitor komputer.

Lama kelamaan, bapak ini mulai menyapa saya.

"Berangkat, mbak?" atau "Baru pulang?"

Dan saya membalasnya dengan anggukan. Sekali waktu saya membalasnya dengan mengatakan "Iya. Mari, Pak!". Tidak pernah lebih dari itu. Tapi saya mulai sedikit memperhatikan.

Setiap pagi sekitar jam setengah delapan, ia akan menyapu jalanan di sekitar masjid, sementara seorang wanita berumur yang kemungkinan adalah istrinya akan tiduran di atas karpet di emperan masjid, tepat di bagian yang terkena paparan sinar matahari. Barangkali dokter yang menganjurkan. Bapak ini saya perhatikan selalu mengenakan baju yang sama. Beberapa T-shirt bergambar partai dan foto calon presiden, yang barangkali didapatnya secara gratis sewaktu musim kampanye dulu. Juga celana pendek dan sepasang sendal jepit usang.

Kemarin, kebetulan saya pulang sedikit lebih awal dan sempat berpapasan dengan mereka yang selesai sholat jamaah di masjid. Bapak ini termasuk dari salah satu jamaah tersebut. Saya memperhatikan dia yang... tampak lain. Memakai kemeja rapi, dengan sarung yang tampak bagus (mungkin yang paling bagus yang dimilikinya). Dan ia tidak bersendal jepit, melainkan memakai selop yang terlihat masih baru. Barang ini belum tentu baru, mungkin karena hanya dikenakan di saat-saat spesial saja sehingga terlihat masih baru.

Terus terang saja, saya jadi kagum luar biasa dengan bapak ini. Dan merasa sedikit tertampar. Di saat saya, atau mungkin kalian yang notabene memiliki berpasang-pasang alas kaki saja, setiap ke masjid pasti akan mengenakan sendal jepit yang paling jelek dengan alasan takut dicuri, bapak ini menunjukkan keteladanan dengan mengenakan hal-hal terbaik yang ia punya di saat yang baginya spesial. Saat beribadah.

Barangkali besok, lusa atau entah kapan, saya harus mengatakan lebih dari sekedar "Mari, Pak!"

21 August 2007

seorang perempuan indonesia berbicara

Sebagai perempuan Indonesia, saya terusik. Sebagai seseorang yang berteman dengan banyak 'bule', saya merasa harus angkat bicara. Membaca satu blog yang ditulis seorang bule yang sudah lama tinggal di Indonesia, saya merasa tertampar. Tapi wajib membela diri. Mas-mas bule ini mungkin lebih Indonesia dibanding kebanyakan orang Indonesia lainnya. Profilnya di friendster sangat jujur, tanpa tedheng aling-aling. Suka dengan cewek Indonesia yang tidak suka dengan bule.

Saya salut dengan mas yang satu ini (yang juga teman dari sahabat saya), tapi di satu sisi, saya ingin menawarkan perspektif lain. Barangkali sebagian dari perempuan Indonesia memang seperti yang digambarkan oleh mas ini, berdekatan dengan orang kaukasoid dengan maksud untuk perbaikan keturunan, pamer, menaikkan gengsi dan sederet alasan lain. Barangkali sebagian dari kita, orang Indonesia masih memandang tinggi mereka yang berkulit putih. Menganggap pribumi dan bule itu berbeda. Dan si mas Perancis ini takut didekati perempuan Indonesia yang membawa misi-misi tertentu tersebut.

Tapi di sisi lain, suka adalah semata-mata selera. Dan selera tak pernah layak untuk dijadikan kambing hitam. Dan selalu ada alasan dibalik selera, bukan?

Satu hal, ketika membaca blognya (masih orang yang sama), saya juga jadi terusik untuk berkomentar. Mas ini mengkategorikan orang bule yang tinggal di Indonesia, dan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Saya sudah membacanya, setengah membenarkan, tapi juga setengah kecewa, jika kategori yang ada ternyata kurang dari sepuluh. Manusia memiliki karakteristik dan kehidupan yang kompleks, tidak cukup dimasukkan dalam penggolongan yang kurang dari jumlah jari kita. Saya kesulitan menemukan akan masuk ke yang mana saya, seandainya saya berkesempatan tinggal di luar negeri nanti. Tak satupun dari yang ditulis oleh si mas bule ini yang mengakomodasi karakteristik saya.

Oh, dan mau menambahkan satu hal lagi, bahwa dalam tiap tulisannya, mas ini menyebut bule dan lokal dengan begitu jelas sehingga perbedaan dikotomis lokal dan non-lokal sangat terasa. Nah, dengan begitu, siapa yang sebenarnya membuat jurang perbedaan?

Saya tidak menyalahkan dia, hanya merasa sedikit terusik saja, mengingat saya pernah 'berteman' dengan seorang bule. Jangan-jangan kalau mas ini bertemu saya secara visual, dia langsung ilfil hanya karena alasan tersebut. Saya percaya, selalu ada alasan dibalik opini seseorang. Barangkali pengalaman yang terlalu banyaklah, yang membuat mas tersebut berpendapat demikian.

20 August 2007

kalau saja saya di amerika

Beberapa hari lalu, tepatnya jam 4 sore, saya mampir ke minimarket sepulang meeting di kantor. Niat sih membeli lotion baru. Cuma lotion, tapi buat milih-milih saja menghabiskan waktu lebih dari setengah jam. Penuh dengan pertimbangan-pertimbangan kuantitas, kualitas dan merek. Oh jangan lupa, juga bahan-bahan yang digunakan, kalau bisa jangan yang berpotensi menimbulkan kanker kelak.

Akhirnya terpilih satu.

Dan hup! Habis mandi rencana pengen banget nyoba hasil perburuan ini. Eh, kok alot ya, segelnya. Tebel banget, digunting pun nggak bisa. Dikuwik-kuwik pakai kuku dan walhasil... adaw!

Kuku yang sudah dipolish rapi patah, dalem ... dan sakit.

Tapi saya bisa apa? Coba kalau saya adalah penduduk di negaranya Homer Simpson, saya pasti bisa mendapat ribuan dollar dengan menuntut ke produsen produk yang bersangkutan, dengan biaya pengacara kurang dari sepertiganya.
Mereka, produsen, benar-benar sangat diuntungkan dengan konsumen yang enggan membuka mulut.

16 August 2007

awal dari sebuah dendam tak berkesudahan

Ada hal-hal yang tak mampu diukur. Selain waktu yang pernah saya tuliskan sebelumnya, saya menemukan beberapa lainnya setelah menyaksikan Hannibal Rising. Sakit hati, kengerian, dendam. Seberapa besar dendam bisa membuat seseorang mengabaikan kenyataan dan memilih untuk memasuki sesuatu yang absurd.

Film ini begitu menyita emosi saya karena kompleksitasnya. Hannibal Rising adalah gambaran tentang dendam tak berkesudahan, yang berbatas tipis dengan cinta yang teramat dalam. Juga mengenai pilihan-pilihan. Jika dalam salah satu bagian hidup kita, hadir sesuatu yang kelam, kemana kita akan melangkah selanjutnya?

Hal-hal yang kontradiktif memang selalu menarik untuk ditelaah. Bagaimana ngerinya saya melihat percikan darah, aneka senjata, pisau, pedang samurai, kapak, menyayat daging, ikan, kulit manusia. Memenggal kepala. Pembunuhan demi pembunuhan yang mencekam. Dilakukan dengan cerdas, penuh pertimbangan dan dingin. Disusun dalam gambar-gambar yang indah.

Film ini mampu membuat saya tak berkedip sepanjang durasinya. Tak berhenti melolos tissue untuk menyeka airmata setiap kali diperlihatkan adegan terbunuhnya Mischa. Tak berhenti bertanya, meskipun dalam film ini juga hadir jawaban-jawaban atas pertanyaan saya dari tiga film sebelumnya.

Meskipun terdengar serius dan terkesan nyata, satu hal menarik saya pada kesadaran bahwa ini hanya sebuah film. Yaitu betapa rupawannya kedua tokoh utama. Siapa sih yang menganggap Gong Li tidak menarik, bahkan di usianya yang sekarang. Dan Gaspard Ulliel? Astaga, ganteng sekali. Coba deh, sekali-sekali memperhatikan cara dia meyeringai atau tersenyum. Kalian akan menemukan lesung pipit di tempat yang bukan seharusnya lesung pipit berada.

15 August 2007

hujan romantisme di dunia maya

membaca blog ini dan ini, tiba-tiba saya ingin muntah. bukan, bukan karena efek jijik. tapi karena tiba-tiba saya mendapatkan sindroma sebaliknya...

saya ingin menangis, ketika tiba-tiba merasakan ada emosi yang membuncah, ada genangan bahagia yang melimpah ruah...

selintas, teringat pembicaraan dengan 'si bayi besar' semalam. hal-hal kecil yang memampukan saya berlutut dalam rasa cinta...

terima kasih...

dalam setiap detik yang berharga

'Setiap detik yang lewat memiliki arti'. Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan quotation tersebut. Yang jelas, kalimat itu kerap menggenang di benak saya tiap kali saya terburu-buru.

Kadang-kadang saya baru terjaga pagi ketika jarum jam menunjuk sebelah kiri angka tujuh. Meskipun dua alarm sudah menyala, namun kadang mata masih enggan untuk berinteraksi dengan udara. Kalau sudah begitu, saya terpaksa memampukan diri untuk memadatkan aktivitas yang biasanya memakan waktu tiga puluh menit hingga menjadi sepertiganya. Tangan kanan menyemprot, sementara yang kiri memoles. Memakai lipstik ketika kaki menyelip di sepatu sembari membuka pintu.

Pada saat-saat seperti itulah saya sadar, betapa waktu adalah sesuatu yang aneh. Ia tak punya kaki, tapi pintar mengejar. Sesuatu yang tak bisa diukur. Kita memang mengenal istilah detik dan bisa menyebut dengan jelas angka yang tertera pada jam analog di layar ponsel, tapi bagaimana kita bisa menterjemahkan rentang yang terlewati ketika kita sedang menunggu sesuatu misalnya. Berapakah itu 'lama' dan 'sebentar'?

Banyak hal yang bisa terjadi dalam hitungan detik yang berlalu. Wajah masam jadi tersenyum, bunga kuncup jadi mekar, balon yang tiba-tiba meletus, kopi yang perlahan mendingin,lagu yang tiba-tiba selesai...

Dan betapa kita sering membiarkan diri kita dikuasai ruang kosong. Tidak berpikir maupun bertindak, mengabaikan sejumlah detik yang seharusnya bisa menjadi sesuatu yang berharga.

06 August 2007

Pulang-Float

dan lalu...
rasa itu tak mungkin lagi
tersimpan di hati
bawa aku pulang rindu, bersamamu...

dan lalu...
airmata tak mungkin lagi
bicara tentang rasa
bawa aku pulang rindu, segera...

jelajahi waktu
ke tempat berteduh hati
kala biru

dan lalu...
sekitarku tak mungkin lagi
meringankan lara
bawa aku pulang rindu, segera...

dan lalu...
oh, langkahku tak lagi jauh kini
memudar biruku
jangan lagi pulang...
jangan lagi datang...
jangan lagi pulang rindu, pergi jauh...

Soundtrack keren dari 3 Hari Untuk Selamanya.
Dua-duanya sangat saya suka.

appreciating little things

Minggu malam, seorang gadis berjalan sendirian sepulang kerja. Jarum jam telah menunjukkan beberapa menit berlalu dari jam 11. Tampaknya si gadis sangat kelelahan dan selama sehari penuh, yang bisa ia bayangkan hanyalah tempat tidurnya, yang tidak sebegitu besar, juga kurang empuk, namun di saat-saat tertentu begitu dirindukan.

Dua hari belakangan, jadwal kerja-tidur-makan saya memang kacau luar biasa. Harus melaporkan langsung satu acara besar yang tercatat dalam rekor muri, sementara tidak bisa bolos juga dari tempat kerja satunya. Belum lagi, sahabat saya yang tiba-tiba minta digantikan siaran pagi buta karena harus kondangan ke luar kota, yang akhirnya membuat saya rela untuk tidur di lantai dingin tanpa selimut demi menjaga agar badan yang capek ini tetap bisa terjaga ketika waktu bekerja tiba.

Pada saat-saat seperti itu, entah kenapa saya baru bisa mensyukuri hal-hal yang sudah seharusnya saya syukuri setiap saat. Tapi ingatan saya terbatas. Saya susah mengingat bahwa tempat tidur saya yang bisa-biasa saja, ternyata masih jauh lebih bagus daripada lantai yang cuma dialasi karpet tipis. Tanpa bantal dan selimut.

Juga bahwa waktu tidur saya bulan lalu, yang hanya dua atau tiga jam per malam karena terpotong telpon tengah malam dan harus bangun tiap jam 4 pagi masih lebih baik dari pada tidur setiap satu jam di sela-sela pergantian pekerjaan. Bahwa udara mendung dan lembab masih jauh lebih baik daripada hujan angin yang sering menghambat aktivitas kita.

Dan kalau kita mau mengingat, akan ada banyak bahwa lagi yang bermunculan yang membuat kita selalu bersyukur. Ternyata hal-hal yang kita anggap kecil itu berguna hanya karena mereka ada.

04 August 2007

working on weekend

Hm... dengernya aja males kan? Tapi begitulah. Sedianya pengen istirahat aja, nonton film yang numpuk di kamar, tapi apa daya ketika ternyata ada banyak tugas memanggil, teteup tak kuasa menolak.

Jadilah, Sabtu Minggu ini saya berada di crowdednya acara yang meraih penghargaan Muri. Berlomba-lomba dengan media lain, mencari dan mendapatkan dan akhirnya ngobrol dengan orang-orang penting di balik sukses acara itu.

Belum lagi sahabat keluar kota yang membuat saya terpaksa mengurangi jadwal tidur karena harus menggantikannya menemani pendengar di tengah malam. Dan kalau saya ngeluh sama ibu di seberang telpon sana, pasti beliau akan bilang 'namanya juga cari duit'. Yeah...

anak-anak memang aneh

Membaca blog ini, saya jadi dingatkan akan hal konyol yang (tanpa sadar) suka saya lakukan waktu masih anak-anak dulu. Kalau ibu atau bapak saya cerita, kadang saya nggak bisa menahan tawa sekaligus airmata. Aduh, dulu waktu kecil (katanya) saya nuaakkal minta ampun. Suka nangis meraung-raung sampai merepotkan seisi rumah. Meskipun udah gede sih masih sering nangis juga, tapi kan lain nangisnya ketika habis nonton film misalnya.

Selain nakal, juga sering konyol kalau dipikir-pikir. Yang sampai sekarang masih sering diingat sama saudara-saudara saya, adalah ketika saya nangis gara-gara merasa ada ayam jago yang melototin saya. Yaelah, ayam gitu, yang caranya memandang ya.... kayak ayam memandang. Coba deh, kalian perhatikan, kayak apa sih ayam kalau lagi melihat kita, manusia? Biasa aja, kan? Nah, di sinilah mungkin keliatan kalau saya dari kecil kadang suka sensi.

Dan satu kebiasaan yang (kalau diingat sekarang) menjijikkan. Ngemut ujung bantal, sampai nggak berbentuk. Kalau bisa membayangkan, ujung-ujung bantal saya dulu, warnanya sampai kusem-kusem nggak jelas gara-gara keseringan diemut. Jijik, bukan? Beraninya ngomong jijik ya sekarang. Kalau dulu mah, seneng-seneng aja bawa bantal itu kemana-mana.

Anyway, kalian pernah kecil juga, kan? Pasti juga punya banyak kejadian konyol bin menjijikkan yang masih diingat. Hayuk, berbagi cerita...

02 August 2007

Just Another Ordinary Day

Setahun sekali, bapak ibu saya akan menelpon pagi-pagi sekali begitu mereka bangun tidur untuk mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" dengan riuh. Itu terjadi setiap tanggal 1 Agustus, yang baru saja lewat sehari. Jadi hari ini, officially saya sudah bisa mendeklarasikan usia saya yang tepat 24 setelah sebelumnya saya selalu nanggung bilang 'jalan 24'.

Agak ragu-ragu sebenarnya, karena saya lahir tengah malam antara tanggal 31 Juli dan 1 Agustus. Tapi yang selama ini tertera di dokumen adalah tanggal yang kedua, dan terus terang saya lebih menyukainya. Angka 1 bagi saya sangat powerful.

Adakah yang spesial di tahun 2007 ini?

Well, barangkali bukan yang terbaik yang pernah saya lewati, tapi yang pasti akan selalu saya catat di memori. Beberapa jam sebelum midnite terjadi 'drama' yang memalukan, mengesalkan... dan mengundang senyum setelah diingat-ingat. Pernah nonton film India, yang ada adegan lari-lari dan kejar-kejaran? Atau nggak usah jauh-jauh lah, sinetron Indonesia saja deh. Nah, kira-kira begitulah yang terjadi antara saya dan sahabat dekat saya. Tak sampai sepuluh menit, dan kami sudah kembali seperti semula.

Dan malamnya,di detik-detik menjelang pergantian usia, ternyata saya kebagian tugas mengeloni bayi besar yang ngambek di telpon. What is with men and jealousy? But guess what? Meskipun paginya saya nggak bisa bangun pagi buat olahraga dan terkantuk-kantuk ketika bekerja, I do love it. Katanya sih, berantem justru bikin hubungan jadi lebih harmonis.

What can I say? It was just another complicated nite! Ada yang mengalami hal yang lebih aneh lagi di malam pergantian usia?

Satu hal lagi, saya paling sebal adalah ditodong traktiran ketika ulang tahun. Itu bukan sesuatu yang layak untuk dijadikan perayaan. Oke, ketika usia saya bertambah, tanpa saya sadar barangkali saya berubah menjadi sedikit lebih dewasa. Tapi itupun tidak instan terjadi dalam satu hari kan? Lagian, kalau cuma makan saja, ketika saya sedang punya sedikit duit dan mood, juga nggak keberatan untuk membayari meskipun tanpa embel-embel perayaan.

Hari ulang tahun bagi saya lebih dalam maknanya daripada sekedar yang tampak. Satu hari yang biasa sekaligus spesial. Ia tak lebih istimewa dari hari lain, karena matahari masih terbit dari timur dan kita tetap punya kewajiban untuk masuk kerja. Tapi ia istimewa karena mengingatkan kita untuk selalu mengingat.

31 July 2007

The Shawsank Redemption

Film yang dirilis di tahun 1994. Film yang mendapat tujuh(!) nominasi Oscar termasuk kategori Best Picture. Film yang ada di urutan nomor dua di daftar film paling bagus di imdb.com setelah The Godfather Part I. Film yang dari dulu pengen banget saya tonton. Film yang akhirnya ada di tangan saya yang entah kenapa selalu tertunda untuk saya tonton. Dari belasan film yang saya pinjam, film ini yang terakhir saya tonton. Entah karena males mikir berat, atau menunggu saat yang tepat ketika saya sedang rileks-rileksnya sehingga bisa benar-benar menikmati.


Film ini sebenarnya berasal dari cerita pendek Stephen King yang judul panjangnya Rita Hayworth and The Shawshank Redemption. Hanya ada beberapa perempuan yang bermain dalam film ini, itupun dalam peran yang tidak begitu penting. Pegawai bank, pelayan toko, pemilik rumah, istri tokoh utama yang menjadi korban pembunuhan, yang semuanya muncul tak lebih dari semenit. Jadi saya tidak merekomendasikan film ini untuk Anda yang mencari romance ala Gone With The Wind atau The Way We Were.
Oh, ada tiga aktris besar yang wajahnya ikut terlihat. Rita Hayworth, Marilyn Monroe dan Raquel (Welch, mungkin. Saya tak terlalu ingat, lagipula waktu dia mulai menjadi ikon,saya belum lahir). Mereka bertiga terpampang dengan seksinya di dinding sel Andy Dufresne, sang tokoh utama.



Awalnya ketika tahu ini adalah film bersetting penjara, saya pikir mungkin akan seperti menonton The Green Mile. Ternyata berbeda, sangat berbeda. Kalau Green Mile sedikit kurang masuk akal bagi saya (meski kekurang masuk akalan itu terhapus oleh sisi humanis yang juga ditampilkan dengan luar biasa), Shawshank benar-benar...apa ya kata yang tepat untuk menggambarkannya...logis. Dan humanis, tentu saja.


Saya tidak bisa menceritakan bagaimana perasaan saya ketika menontonnya. Perasaan saya mengalir (seperti ketika nonton The English Patient dan A Beautiful Mind, tapi kali ini lebih kompleks) sepanjang saya menonton, menikmati narasi yang rapi oleh Morgan Freeman. Saya menangis, tertawa, mengernyit, sekaligus terkejut. Sampai di tengah film, saya pikir (lagi), film ini akan berkisah tentang sosok inspirasional seperti Michelle Pfeiffer di Dangerous Minds, atau Julia Roberts di Mona Lisa Smile, atau Robin Williams di Dead Poet Society. Ternyata, ceritanya berkembang jauh sekali dari tebakan saya.


Banyak quotation yang mengena di hati, atau pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya saya kembalikan pada diri saya. Tentang harapan, tentang menghadapi kenyataan, tentang pengorbanan, tentang persahabatan.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menjadi mereka yang keluar dari bui setelah puluhan tahun mereka terkurung di dalam tembok? Seperti yang dilakukan Brooks, bapak tua yang telah berada di penjara Shawshank selama 50 tahun, yang akhirnya mendapat kebebasannya. Dia menyerang salah satu rekan sepenjara agar dianggap belum layak keluar. Brooks merasa akan sulit beradaptasi dengan kehidupan di luar. Di dalam penjara, dia adalah orang penting, sementara di luar sana, ia tak akan menjadi apa-apa. Hanya seorang pria tua dengan tangan yang sudah kaku, yang pernah bersalah dan telah membayar untuk kesalahannya. Beberapa saat menikmati kebebasan, akhirnya pria tua ini memilih bunuh diri.
Mereka yang berada di dalam penjara secara spontan akan terinstitusi. Seperti yang dikatakan Morgan Freeman dalam salah satu percakapan.
"These walls are funny. First you hate 'em, then you get used to 'em. Enough time passes, you get so you depend on them. That's institutionalized."




Ah, begitu film selesai, saya masih diam tak bereaksi. Seperti yang dikatakan seorang teman dalam blognya yang baru saja saya baca, setelah melihat film ini, kita akan berpikir untuk beberapa jam atau beberapa hari ke depan.
Ya, sampai detik ini saya belum berhenti memikirkannya.

28 July 2007

memorabilia masa remaja

Belum lama ini, saya menemukan kotak pernak pernik milik adik saya, yang sekarang masih SMU. Ah, jadi ingat, saya juga pernah punya satu. Kalau punya adik saya sekarang isinya koleksi loose leaf bergambar, kartupos-pembatas buku-pin up-poster Harry Potter, punya saya dulu lain, secara Harry Potter belum dilahirkan ketika saya masih berseragam.

Dulu, di akhir dekade 90-an, boy band benar-benar merajalela. Mengekor suksesnya Take That, boy band-boy band yang bermunculan rata-rata juga dari daratan Eropa. Diawali Boyzone, lalu ada semacam Caught In The Act, dan yang fenomenal barangkali Westlife. Amerika rupanya ngiri, lantas mulai bermunculan grup-grup seperti Backstreet Boys (yang melambungkan nama Nick Carter), Bed and Breakfast (ada yang masih ingat?), sampai 98 Degrees yang konon beraliran R n B. Rata-rata tiap anggota grup yang sudah saya sebut tadi memang memiliki wajah ganteng, suara pas-pasan dan tubuh yang sedikit lentur sehingga mudah ditata koreografer di atas panggung. Entahlah dari mana logikanya, tapi kombinasi dari beberapa lagu recycle yang dinyanyikan cowok-cowok ganteng, ditambah sedikit gerakan yang sama di atas panggung ternyata mampu membius cewek-cewek untuik rela mengeluarkan sekian ratus ribu agar bisa menjerit di bibir panggung. Saya pun kalau punya duit segitu barangkali akan rela melakukan hal yang sama. Lantas, yang mana yang saya gila-gilai?

Sabar dulu! Sebelumnya saya akan menceritakan hal memalukan yang dulu saya anggap wajar. Salah satu majalah remaja yang rutin saya beli waktu SMU mengadakan polling tentang personil berwajah terganteng dari setiap boy band. Meskipun sekarang saya mengaku pengen ketawa, tapi malu tak malu saya akui juga, dulu saya khidmad mengikuti polling tersebut setiap edisinya sampai melupakan pe er kimia. Ada satu grup yang saya pikir bukan masuk kategori boy band, malah dimasukkan dalam polling. Well, benar semuanya ganteng, tapi mereka memainkan musik dan tidak mempekerjakan koreografer. Yup! Mereka adalah empat bersaudara dari Jerman, The Moffatts.

Entah apakah hati seorang gadis remaja (hayah, bahasanya!) gampang terinvasi oleh wajah bule muda yang selalu pamer senyum, begitu melihat Clint Moffatt di layar kaca, saya langsung jatuh cinta. Ingat ya, Clint Moffatt! Yang berambut jambul, satu dari si kembar tiga. Saya begitu tergila-gila sampai rela menabung uang jajan untuk membeli segala macam poster, stiker pembatas buku, pin up, bahkan kartu nama kosong dengan hiasan wajah anak-anak keluarga Moffatt ini. And you know what, semua teman saya tahu saya begitu tergila-gila sehingga kalau mereka menemukan sesuatu yang 'sepertinya' akan saya suka, mereka dengan senang hati akan membelinya dan membawa untuk saya keesokan harinya di sekolah.

Kalau inget jaman dulu banget, kadang-kadang kita suka geli ya, dengan kekonyolan masa lalu kita? Sekarang, setelah Clint dan Bob berkelana ke Bangkok dan akhirnya memutuskan untuk kembali bermain musik dan membentuk Same Same, kok saya jadi biasa banget ya?

Kalian juga pasti punya kan, hal yang digilai di masa lalu?

27 July 2007

kehilangan memang tak pernah mudah

Setiap kita pasti pernah mengalami putus cinta, penolakan ataupun perpisahan. Nggak enak banget kan rasanya? Bahkan ketika alasannya datang dari ketidaknyamanan kita, putus akan membuat kita lebih tidak nyaman lagi. Biasanya berdua, lantas jadi sendiri. Tiap kali merasa sedih selalu ada yang memeluk, sekarang kita harus mengeluarkan airmata tanpa ada yang menenangkan dengan kecupan di kening. Memang sih, selalu ada teman-teman yang siap menghibur kita. Tapi ada saja hal yang biasa dilakukan pacar yang tak bisa teman lakukan. Bukankah karena itu sebabnya mereka mendapat dua sebutan yang berbeda?

Apapun itu, kesedihan selalu mendatangkan rasa tak menyenangkan. Kehilangan selalu terasa berat. Dan melepaskan selalu menjadi hal yang paling sulit dilakukan. Seringkali hal itu menimbulkan penyesalan juga, pun ketika kita sudah sangat berusaha pada awalnya.

Ketika kakek saya meninggal beberapa bulan lalu, saya merasakannya. Ibu sudah mengabari saya untuk segera pulang, karena sakit kakek telah teramat parah. Tapi dengan seribu alasan, dan kerapkali pembenaran diri, saya terus menunda. Sampai suatu pagi, ada panggilan untuk segera pulang ke rumah. Sulit sekali mencari pengganti saya dalam situasi mendesak begitu. Dan begitulah, dalam perjalanan saya ke tempat kerja, kakek saya sudah terlebih dulu dipanggil-Nya. Saya tak pernah berhenti menyesal, tapi apa yang bisa saya lakukan?

Hal penting lain yang merupakan bagian dari kehilangan adalah penerimaan akan kehilangan itu sendiri. Butuh waktu yang tak sebentar untuk akhirnya kita bisa melepaskan seseorang atau sesuatu dengan legowo.

Semalam, saya mendengar cerita dari seseorang tak dikenal, yang spontan membuat saya menangis. Setelah kami bertukar informasi mengenai film, dia bercerita tentang kehilangan yang pernah dialami. Seorang sahabat, yang kepergiannya begitu mendadak, dan tidak hanya membuat mbak ini menangis dan sering memimpikannya. Tapi dia mengaku masih sering mencoba menelpon nomernya (bahkan ketika ia tahu tidak ada yang akan mengangkat) dan mengajaknya chatting (bahkan ketika dia tahu tidak akan dijawab). Dan mbak tersebut melakukannya dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya. Barangkali dia hanya ingin selalu menghidupkan sosok sahabat ini dalam pikirannya saja. Nah, tidakkah cerita ini membuat kalian menangis juga?

26 July 2007

In which decade we are now?

Baru saja selesai siaran, mmm...sebenarnya ini hari pertama siaran program baru. Bukan baru banget sih, dulu sudah pernah saya bawakan. I'm back, everyone! Rasanya seperti deja vu.

Tapi bukan itu yang akan saya ceritakan. Jam terakhir siaran, di acara request, ada yang mengirimkan sms dan mengatasnamakan diri sebagai LIBRA BOYZ.

Libra boys? Aduh, ketika membaca sms itu, rasanya saya kembali terlempar ke awal dekade 90-an, di mana panggilan semacam itu terasa biasa, bahkan heibat betul. Nama itu yang barangkali kita pakai untuk mengirim lagu lewat radio, mengisi biodata di diary teman, dan hal-hal silly lain yang saya (dan mungkin kalian) lakukan ketika masih memakai seragam biru putih. Dulu kita merasa keren ketika melakukannya. Sekarang, ada sedikit malu yang mungkin kita rasakan ketika mengingatnya, padahal sebenarnya itu tidak perlu.

Panggilan, sama seperti istilah dan cabang-cabang bahasa lain, bukan sesuatu yang kekal. Selalu ada hal baru untuk dipelajari dan digunakan. Kita bisa memberi lima bintang untuk istilah A misalnya, pada kisaran tahun (atau bahkan bulan) tertentu. Tapi tahun depan, grade istilah tersebut akan turun menjadi tiga bintang, karena yang baru dengan sendirinya menjadi lebih happening. Saya pernah menulis hal serupa ini di sini.

Memang sih, nggak ada yang salah dengan memakai panggilan atau istilah yang absolutely-out-of-date tersebut. Tapi sekedar untuk berjaga-jaga saja, tidak ada salahnya kan membuka telinga lebar-lebar dan menampung setiap hal baru dang bermunculan. Lagipula, ini juga berjasa untuk mencegah rasa ilfil timbul jika kalian berhadapan dengan orang yang kadang kejam dan suka melebih-lebihkan hal kecil seperti saya.

21 July 2007

Flirting is (not) in the blood

Saya harus menegaskan di awal posting ini bahwa saya sangat suka flirting. Dan belakangan baru saya rasakan, kesukaan saya akan flirting merupakan bawaan lahir. Bukan genetis tentu saja, karena saya tak pernah melihat ibu atau bapak saya melakukan hal yang sama. Melainkan bakat. Saya pernah membahas hal ini dengan salah seorang rekan kerja di sela-sela obrolan pagi sambil menikmati kopi, dan dia menganjurkan saya untuk menulisnya, agar menjadi semacam pelajaran bagi mereka yang ingin mulai melakukan pendekatan.

Saya mengatakan tidak, meskipun toh saya tulis juga akhirnya. Tapi tetep bukan dalam bentuk tips, melainkan opini saja.

Begini, kalau kita bicara tentang korelasi antara bakat dan keberhasilan, pertama kita harus menciptakan kategori. Menulis juga merupakan bakat. Tetapi kita hanya membutuhkan kurang dari sepuluh persen saja untuk memenuhi seratus persen keberhasilan menciptakan sebuah tulisan. Jelas, bakat memiliki peran relatif sedikit di sini. Yang mendominasi keberhasilan menulis sebenarnya adalah usaha dan keengganan untuk menyerah.

Lain dengan flirting. Kita tidak terlalu membutuhkan usaha, karena (terutama bagi saya), flirting adalah sebuah tindakan spontan. Begitu kita berhadapan dengan seseorang, secara otomatis tubuh kita akan membentuk gesture tertentu dan kata-kata seolah tercetak begitu saja di otak.

Oke, sekarang saya bekerja di tempat yang mengharuskan saya berinteraksi dengan banyak orang. Wajah berhadapan dengan wajah, bukan sekedar impresi yang tercipta di otak melalui suara. Dan kerapkali saya menemukan sosok-sosok menarik di tempat kerja baru saya. Barangkali inilah yang membuat saya akhirnya sadar, bahwa kemampuan (plus keinginan) flirting merupakan bawaan lahir. Karena di antara rekan-rekan kerja saya yang lain, sayalah yang paling suka merayu.

Saya contohkan, ketika saya menjumpai kembali wajah seseorang yang pernah bertukar obrolan seru tentang film, saya spontan berkata 'Hei, I recognize your face. How're you doing?' Atau kali lain, ketika saya bertemu orang yang berbeda yang saya kenali wajah juga kebiasaannya, spontan saya menyapa 'Hello Belluci's number one fan...' Dan senangnya, pria-pria jaman sekarang tidak lagi konservatif dengan menganggap hal ini sebagai compliment biasa. Artinya mereka tidak lantas kege-eran. Dan Anda tentu bisa menebak, interaksi kami selanjutnya berlangsung lebih seru lagi.

Orang yang suka flirting seperti saya, kadang melakukan penyangkalan, bahwa itu dilakukan sekedar untuk beramah tamah. Tapi saya bilang, ramah tamah hanya berhenti pada senyum dan sapaan standar 'apa kabar?'. Pun, ramah tamah tidak disertai dengan gesture. Please, jangan berpikir terlalu jauh dengan membayangkan saya bergerak terlalu vulgar dengan menyorongkan dada saya misalnya, definitely not like that! Saya hanya membuat posisi saya lebih terbuka sehingga menunjukkan pada mereka, pria-pria itu, bahwa saya siap untuk obrolan lebih lanjut.

Dan jangan salah sangka juga, flirting adalah kata lain dari approach kecil-kecilan. Bukan berarti kita meniatkan diri untuk berhubungan lebih. Nope! I have one already in my heart, and two would make it too much. Flirting adalah flirting, dan salah atau benarnya tak bisa saya katakan. Siapalah saya? Saya tidak dalam kapasitas untuk menilai sesuatu.

Postingan kali ini (sekali lagi) bukan sebagai tips atau sesuatu yang layak dicontoh. Saya tetap berpegang teguh bahwa flirting adalah bakat. Tapi untuk Anda yang niat ingin memulai (karena barangkali sekarang sudah menemukan seseorang yang layak untuk diflirtingin), itu juga bukan hal yang mustahil. Meskipun di awal saya bilang bahwa flirting adalah bakat, tapi bisa banget dipelajari. Baca buku, novel, chicklit, tonton banyak film, buka mata dan lihat kejadian sekitar, and see how people behaves. Kalau target kalian adalah sosok smart, witty, fun, flirting ala Carrie Bradshaw bisa banget dicoba. Tapi saya tetap berpesan satu hal yang terdengar klise, mudah diucapkan, namun butuh perjuangan untuk melakukannya (karena godaan di luar sungguh luar biasa) : BE YOURSELF!

Rumah baru sudah selesai dibangun

Hm... boleh deh, menarik napas lega sekarang. Akhirnya rumah baru yang saya idamkan sudah layak ditinggali. Setelah sekian lama berkutat dengan kode-kode nggak jelas (harap maklum, karena saya sedikit gaptek), ngrusuhi manusia-manusia di kantor dengan keluhan, dan menenteng buku panduan kemanapun untuk dibaca ketika ada sedikit waktu luang, akhirnya saya bisa bilang "Alhamdulillah..."

Mungkin isinya masih belum lengkap ya? Beberapa tirai masih perlu diganti. Perabotan juga masih banyak yang harus dibenahi. Tapi di dapur selalu tersedia kopi buat teman ngobrol kita, jangan khawatir!

Biar ramai, sebagian penghuni
rumah lama nantinya juga ada yang akan menempati rumah baru ini. Tapi namanya juga pindahan, jadi mesti perlahan-lahan, melihat situasi kondisi dong!

Buat teman-teman yang hendak mampir, nggak usah sungkan. Anggap saja rumah ini seperti rumah kalian sendiri. Saya pamit, tapi sebentar nanti akan kembali.