18 December 2008

riwayat secangkir kopi

Belum lama ini, atasan saya meninggal. Mengejutkan memang, mengingat tiga hari sebelum meninggal, saya masih melihat beliau, dan terlihat bagi saya saat itu kondisinya masih baik-baik saja. Saya pulang tanpa pamit kepadanya, karena aya pikir, toh kami maih aling akan bertemu lagi. Dan memang takdir adalah sebuah misteri besar. Siapa yang menyangka, tiga hari setelahnya, ketika saya jalan-jalan di museum, begitu membuka inbox setelah beberapa waktu handphone saya tinggalkan di loker, berita tersebut datang dengan begitu mengejutkan.

Ada banyak sekali kenangan mengingat kami berinteraksi setiap hari. Barangkali secara emosional saya tak terlalu dekat dengan beliau, tidak seperti beberapa teman penyiar lain. Tapi karena setiap hari kami bertemu, ada perasaan kehilangan yang aneh ketika tak lagi melihatnya di kantor.

Bukan tentang itu yang akan saya tulis sebenarnya. Saat ini, saya sedang menikmati secangkir kopi. Beberapa yang tertinggal dari yang sudah pergi, atau yang memilih pergi. Gulanya, berasal dari peninggalan atasan saya. Saya masih bisa mengingat beberapa waktu sebelum beliau meninggal, saya pernah meminta gula kepadanya.

Sedangkan kopi, tentu saja milik sahabat saya yang saya ceritakan di posting sebelumnya. Kalau kebetulan bertemu di kantor, biasanya kami menghabiskan waktu dan saling menceritakan hal nggak penting. Sungguh, saya akan merindukan saat-saat itu.

3 comments:

JelajahiDuniaEly said...

aku ma suami juga nggak terlalu dekat2 amat sama tetangga belakang, tapi saat dia tiba2 saja meninggal di usia yang masih tergolong muda, kamipun merasa kehilangan juga

mOmOn said...

Semua orang memiliki kenangan.
Berbahagialah selama masih bisa mengenang, daripada tidak sama sekali.

Wira said...

Deeply Sympathy..
beliau ramah n care terhadap relasi .. itu kesan saya
Semoga diberi t4 yg terbaik disinya