07 June 2008

romansa detik terakhir

...atau last second romance, saya menyebutnya. Pernahkah Anda memperhatikan adegan-adegan ending di film - drama romantis khususnya - ketika si tokoh utama harus mendapatkan sesuatu, sementara waktu terus berlari dan rasanya mustahil untuk sampai di tempat pada waktunya. Yah, kira-kira seperti repotnya Hugh Grant sekeluarga untuk mendatangi konferensi pers Julia Roberts di Notting Hill. Hmm, seandainya kejadian nyata bisa diset sedemikian rupa, sehingga kita selalu dapat tiba di tempat pada waktunya, atau kalaupun beberapa menit terlambat, kita pasti terpikir untuk mengatakan sesuatu yang heroik sehingga selalu diijinkan untuk tetap melakukan apa yang jadi tujuan Anda.

Dalam hidup, saya selalu menginginkan hal itu terjadi. Bagi saya, hal-hal heroik semacam itu berkesan romantis. Seperti misalnya, saya akan lebih suka dilamar dengan cara spektakuler daripada acara lamaran konvensional menghadap orang tua. Tapi kalau soal itu sih, tergantung juga sama yang melamar ya.

Yup, kembali lagi ke romansa detik terakhir tadi. Kemarin malam baru saja saya mengalaminya, menjadi pelaku romansa detik terakhir. Saya menggambarkan diri saya saat itu seperti tokoh novel atau buku dalam sebuah ending. Waktu, kesempatan, dua kata itu bermunculan di benak saya. Saya memutuskan untuk mengambil resiko. Melakukan sesuatu, dan bukannya cuma duduk diam menunggu. Meskipun jika menunggu aja barangkali hasilnya akan lebih baik lagi.

Kurang jelas? Oke, barangkali saya perlu bercerita lebih detail.

Kemarin malam, hubungan saya berada di ujung tanduk, atau setidaknya begitu bagi saya. Saya melakukan hal yang saya tahu dia tidak bakal menyukainya. Saya melakukannya sekedar untuk membuat dia marah, karena saya kecewa. Kurang bijaksana? Memang, saya sadar itu. Bisa dibilang, yang muncul kemarin malam adalah the impulsive Kennisa. Benar dugaan saya, dia marah. Belum pernah saya melihat kekasih saya sedingin itu. Saya merasa bersalah, tentu aja. Yang terlintas dalam pikiran saya dalam waktu-waktu seperti itu pastinya hanya satu hal. Barangkali malam ini akan menjadi sebuah akhir.

Dan seandainya harus berakhir sekarang, ada satu hal yang ingiiiin sekali saya lakukan. Saya tidak memikirkan sukses tidaknya rencana itu. Saya hanya ingin dia tiba-tiba melihat saya di tempat yang sama sekali tidak diduganya. Rumah Sakit, karena memang di sanalah dia berada saat itu. Masih dengan rambut basah, saya menyambar tas dan mengisi dengan barang sekenanya, lalu keluar mencari taksi. Tujuan saya cuma satu, rumah sakit langganan dia.

Sampai di depan UGD, saya mencoba mengirim pesan kepadanya. Tak berani menelpon, karena selalu direject. Dan, shit! Handphone saya lowbat. Saya mendapatkan jawabannya dalam waktu singkat, ketika nyawa handphone saya tinggal sejengkal.

"Ada apa di ... (nama Rumah Sakit langganannya)?"

Saya menjelaskan bahwa saya ada di luar dan menunggunya keluar. Sampai jam berapapun. Dan saat itu juga, alat komunikasi saya mati. Saya berlari menuju wartel, untuk menghubungi dia. Tak ada jawaban. Sampai akhirnya terima kasih Tuhan, tangan saya meraba charger di tas. Lantas, dengan memelas, saya memohon bapak penjaga wartel untuk mengijinkan saya menghidupkan handphone sebentar saja. Dan benar, ada satu pesan jawaban dari dia.

"Aku di ... (Menyebut nama rumah sakit yang berjarak beberapa kilometer dari rumah sakit tempat saya berada sekarang). Sayang kenapa di RS? Sebenernya aku mau ke tempat kamu, tapi kamu pergi?"

Ya, Tuhan. Saya tak tahu harus menangis atau tertawa. Sesuatu yang saya prediksikan untuk menjadi heroik, romantis sekaligus sedih, pendek katanya emosional, kenapa jadinya malah konyol begini. Dan yah, akhirnya saya bertemu dia. Banyak yang ingin saya katakan, emosi yang ingin saya tumpahkan, tapi saya terlalu capek. Dan geli.

Dan kelanjutan cerita rasanya tak usah saya ceritakan aja. Yang pasti tidak seperti pikiran negatif saya sebelumnya, malam itu bukan sebuah akhir. Dan ya, saya sangat bahagia.

For you, you know who you are...
Thank you, for the love, the understanding...
And every little things you do...
(Dan maaf, isi SMSnya aku tulis di sini)

2 comments:

Anonymous said...

It sounds like true romance story?

kennisa said...

Well, it is. Uhmm...hope so!
What d'u think? Is it?