20 May 2008

wedding, east vs west

Beberapa hari lalu saya datang ke resepsi pernikahan teman kantor. Sekarang memang memang tradisinya begitu ya, kecuali mungkin untuk prosesi pernikahan tradisional. Yang saya hadiri kemarin tidak beda dengan yang sudah-sudah. Pesta sambil berdiri, pengantin available sepanjang acara berlangsung - kebanyakan berdiri untuk menunggu para tamu yang ingin bersalaman, sementara makanan dan minuman ada di meja khusus - silahkan ambil sendiri. Rasanya kita sebagai tamu datang hanya untuk setor muka ke si pengantin, bahwa kita sudah datang memenuhi undangannya. Sejalan dengan hobi ngaret orang kita, susunan acara yang seperti ini tepat sekali. Tapi saya merasakan ada yang hilang...kok kayaknya tidak ada kekompakan antar tamu ya?

Di salah satu film favorit saya, 4 Weddings and A Funeral, diceritakan 4 prosesi pernikahan ditambah satu prosesi pemakaman membuat yang yang awalnya tidak saling mengenal pun akhirnya menikah. Semua orang datang pada waktunya, mengikuti seluruh rangkaian acara, dari pemberkatan gereja sampai mengantarkan di mempelai menuju mobil bulan madu mereka. Yap, dan ini tentunya menghabiskan berjam-jam. Sementara, kalau di tempat kita, di 'bulan-bulan kawinan', atu orang saja bisa mendapatkan tiga undangan dalam sehari. Jadi ya memang pesta berdiri itu menguntungkan.

Soal 'sesuatu' yang bakal kita berikan ke calon pengantin juga punya cerita sendiri. Kalau dulu, di pesta kawinan biasanya saya melihat tumpukan kado yang dibungkus kertas norak berwarna warni, sekarang saya jarang melihat yang seperti itu. Sesuai dengan prosesi yang semakin praktis, hadiah juga dibuat sama. Tinggal masukkan uang ke dalam amplop, selesai. Hal bagusnya adalah uang itu memang bisa digunakan si pasangan untuk memulai kehidupan baru mereka yang pastinya tak murah. Bukan berarti saya menyukai itu lho! Saya sebenarnya lebih suka membelikan barang sebagai kado. Lebih berkesan pribadi. Bagaimana kita menentukan kado yang tepat, yang tidak pasaran tapi fungsional sekaligus sesuai dengan selera personal pihak yang diberi kado bukanlah hal mudah.

Repotnya, ketika kriteria memilih kado lebih menekankan pada aspek fungsionalnya, plus dipengaruhi oleh keterbatasan waktu memilih, kadang bisa mengakibatkan efek agak tidak menyenangkan bagi si pasangan pengantin. Buat apa sepasang manusia memiliki 10 motif tea set, 12 set seprai atau 27 lembar handuk. Nah, untuk mengatasi hal itu, saya lebih suka dengan pemberian kado a la barat. Yaitu dengan mendaftarkan hadiah yang kita mau. Itu yang berlaku di tempat Carrie Bradshaw. Pihak yang punya hajat akan menghubungi satu atau beberapa toko untuk mendaftarkan diri dan memilih kado yang diinginkan. Dan undangan akan menerima daftar itu dan membeli alah satu barang yang ada dalam daftar. Tak kalah praktis, dan melegakan semua pihak. Yang memberi kado tak perlu repot-repot memilih, sementara yang diberi kado juga tak mendapatkan beberapa barang yang sama sekaligus.

Tapi mungkin nggak ya, itu diterapkan di sini? Di mana budaya sungkan masih sangat berlaku. Mungkin nanti, entah kapan saya akan memulainya :) Aha...berarti mulai sekarang saya harus sering-sering window shoping, ahahaha, menyenangkan sekali!

1 comment:

isnuansa said...

Sepertinya, enak juga ya, bisa milih hadiahnya.. Tapi masih lama kayaknya bisa diterapkan di Indonesia. Mau memulainya? Saya ngikut aja deh :)