another wierd day...
Kemarin banyak hal baru yang saya temui sepanjang hari. Hati saya rasanya mau meledak karena luapan perasaan dari pagi yang berdatangan. Sebagian pelan, dan menimbulkan melankolia. Tapi ada juga yang datang begitu tiba-tiba, menyebabkan keterkejutan.
Barangkali luapan-luapan perasaan itu juga diebabkan oleh cuaca. Hujan mengguyur Jogja sepanjang pagi, membuat siapapun malas keluar rumah. Inginnya ditemani secangkir kopi panas mengepul, membaca majalah atau nonton DVD, atau membicarakan hal-hal ringan bareng sama pacar. Kalau saja tidak ada kewajiban untuk masuk kuliah pagi buta, atau kalau ibu dosen yang mengajar kuliah jam pertama tidak sebaik dia, pasti saya akan menyerahkan diri kembali pada selimut. Tapi kita memang cenderung patuh pada orang yang baik.
Saya terlambat 40 menit, memakai sendal jepit, namun masih dipersilahkan masuk dengan sangat manis. "Nggak apa-apa, ayo silahkan masuk saja."
Selepas kuliah, saya ngopi dengan seorang teman. Selama hampir lima bulan berada di kelas yang sama, dengan jumlah mahasiswa kurang dari limabelas, jarak diantara kami termasuk jauh. Acara ngopi bareng itu menjadi ajang perkenalan kami berdua. Banyak hal yang saya refleksikan dari dua jam obrolan ringan itu.
Dari kampus, saya langsung ke kantor karena ada penjadwalan ulang meeting setelah yang sebelumnya tidak memungkinkan berlangsung. Dan pertemuan kali itu ditutup secara mengejutkan oleh sahabat saya yang tiba-tiba mengundurkan diri. Bukan tiba-tiba sebenarnya, tapi keputusan itu udah melewati bukan hanya atu dua pertimbangan.
Saya sedih, felt I left alone. Tapi saya senang, sungguh! Bahwa satu dari kami berdua telah memenangkan akal sehatnya dan memilih untuk move on. Congratulation!
Dan semua itu membuat perasaan saya bertumpuk-tumpuk dan penat.
