Showing posts with label secangkir kopi. Show all posts
Showing posts with label secangkir kopi. Show all posts

16 December 2008

another wierd day...

...said my friend.

Kemarin banyak hal baru yang saya temui sepanjang hari. Hati saya rasanya mau meledak karena luapan perasaan dari pagi yang berdatangan. Sebagian pelan, dan menimbulkan melankolia. Tapi ada juga yang datang begitu tiba-tiba, menyebabkan keterkejutan.

Barangkali luapan-luapan perasaan itu juga diebabkan oleh cuaca. Hujan mengguyur Jogja sepanjang pagi, membuat siapapun malas keluar rumah. Inginnya ditemani secangkir kopi panas mengepul, membaca majalah atau nonton DVD, atau membicarakan hal-hal ringan bareng sama pacar. Kalau saja tidak ada kewajiban untuk masuk kuliah pagi buta, atau kalau ibu dosen yang mengajar kuliah jam pertama tidak sebaik dia, pasti saya akan menyerahkan diri kembali pada selimut. Tapi kita memang cenderung patuh pada orang yang baik.

Saya terlambat 40 menit, memakai sendal jepit, namun masih dipersilahkan masuk dengan sangat manis. "Nggak apa-apa, ayo silahkan masuk saja."

Selepas kuliah, saya ngopi dengan seorang teman. Selama hampir lima bulan berada di kelas yang sama, dengan jumlah mahasiswa kurang dari limabelas, jarak diantara kami termasuk jauh. Acara ngopi bareng itu menjadi ajang perkenalan kami berdua. Banyak hal yang saya refleksikan dari dua jam obrolan ringan itu.

Dari kampus, saya langsung ke kantor karena ada penjadwalan ulang meeting setelah yang sebelumnya tidak memungkinkan berlangsung. Dan pertemuan kali itu ditutup secara mengejutkan oleh sahabat saya yang tiba-tiba mengundurkan diri. Bukan tiba-tiba sebenarnya, tapi keputusan itu udah melewati bukan hanya atu dua pertimbangan.

Saya sedih, felt I left alone. Tapi saya senang, sungguh! Bahwa satu dari kami berdua telah memenangkan akal sehatnya dan memilih untuk move on. Congratulation!

Dan semua itu membuat perasaan saya bertumpuk-tumpuk dan penat.


09 December 2008

dinginnya jogja hari ini

...hawanya seperti di Bandung, atau Malang, dua kota yang dulu sering saya singgahi dalam rangka bekerja. Barangkali karena saya terbiasa dengan hawa panas di Jogja selama delapan tahun terakhir ini, sesekali merasakan udara dingin menjadi sesuatu yang terasa semacam obat bagi rasa sakit. Seperti tidur dua jam setelah tiga hari nonstop bekerja. Sebentar, tapi efeknya luar biasa.

Dan pagi ini, selepas jam sembilan pagi, saya baru menyadari, udara di Jogja tak seperti biasanya. Memang ada yang sedikit mengganggu, yaitu hujan gerimis satu dua dan kecil-kecil yang tak henti-hentinya turun. Tapi itu tak membuat kita lantas basah kuyup meskipun tiga puluh menit berjalan tanpa payung.

Yang pasti, udara dingin seperti sekarang ini, adalah suasana yang paling menyenangkan untuk minum kopi. Sembari ngobrol tentunya. Dan ditemani sepiring gorengan. Hmmm...enak kan?

Bukan hanya itu saja, tapi cuaca seperti ini juga menjauhkan prasangka-prasangka buruk dari hati kita. Bawaannya pikiran adeeem melulu. Asal nggak setiap hari saja, selain cucian nggak kering, saya takut lama-lama kulit ini berubah jadi putih :)

31 October 2008

buatlah kontroversi, lalu masuk tivi

Kemarin, beberapa jam duduk dan menonton tayangan televisi, saya dilanda kebosanan. Mengapa? Karena dalam beberapa jam itu, berita yang ditayangkan relatif sama. Mengenai heboh pernikahan seseorang (yang menyebut dirinya) syekh dengan gadis (sangat) muda, masih berusia 12 tahun. Detailnya seperti apa, barangkali tidak perlu saya ceritakan. Toh, semuanya juga pasti sudah membaca atau melihat dimana-mana.

Yang sedikit membuat saya mikir, adalah betapa hebohnya berita tentang perkawinan ini. Eksploitasi media seakan tak ada habisnya. Padahal, yang namanya perkawinan itu kan hal yang biasa. Yang selalu tidak biasa adalah, manusianya. Si pembuat kontroversi. Dan manusia semacam ini memang selalu ada.

Menariknya, hal ini juga menguntungkan berbagai pihak. Pakar kesehatan reproduksi, tokoh agama, ulama, organisasi-organisasi wanita dan masih banyak orang dari banyak bidang yang dinilai berkaitan turut angkat bicara, menelaah kasus ini dari berbagai perspektif. Mau tidak mau, media juga akan memusatkan perhatian kepada mereka. Disadari ataupun tidak, permasalahan ini menjadi jembatan antara para pakar dan tokoh dengan publisitas media.

Satu lagi yang saya amati sejak dulu. Banyak sekali permasalahan yang terjadi di negara ini. Tapi, yang berhasil mencuat dan menempati posisi teratas yang paling banyak dibicarakan orang biasanya permasalahan seputar alat kelamin. Entah itu poligami, selingkuh dan lain-lain sejenisnya. Hal serupa diungkapkan Andrea Hirata dalam salah satu novelnya, testosteron adalah alasan nomor satu bagi banyak tingkah laku kejahatan.

07 August 2008

quarter life fear, is it real or just a metropop campaign?

Saya pernah membaca satu chicklit Indonesia, Quarter Life Fear. Maaf kalau saya bilang, saya kurang begitu terkesan ketika membaca. Well, saya memang tak mengharapkan novel ini bisa menimbulkan perasaan inspired seperti ketika membaca Gone With The Wind atau Laskar Pelangi misalnya.

Quarter Life Fear, sudah saya baca beberapa waktu silam. Alur maupun karakternya seperti kebanyakan chicklit atau metropop yang sekarang menjamur di toko buku. Cerita yang nyaris seragam, karakter yang kebanyakan.

Hmm...kali ini saya tidak akan menulis review buku. Tapi tentang 'fear' itu sendiri. Ketakutan cewek manapun yang memasuki usia seperempat abad dan kelihatannya serba kurang di sana sini. Single, yang artinya belum punya pasangan serius, tapi sudah merasa dikejar-kejar usia (atau orang tua?). Pekerjaan ada, tapi finansial masih di ujung tanduk. Dikelilingi oleh orang-orang - yang sepertinya - lebih hebat sehingga memicu perasaan minder. Pernahkah merasa seperti ini, teman?

Beberapa hari lalu, saya melewatkan detik pergantian usia saya. Iya, saya sudah terhitung seperempat abad lho! Hari yang menyenangkan, ketika sahabat-sahabat dari berbagai kota mengucapkan selamat, ketika dibangunkan pagi buta oleh 'dia' dengan kecupan, meskipun lewat telpon, dan melewatkan hari dengan perasaan luar biasa bahagia.

Tidak ada ketakutan berlebihan seperti yang dideskripsikan di novel-novel chicklit atau metropop yang sering saya baca. Barangkali memang perasaan seperti ini tak bisa dikategorikan menjadi normal atau abnormal, hanya saja ketika menjalaninya sendiri, rasanya berbeda. Saya juga belum bisa dibilang berada dalam posisi mapan, baik finansial maupun emosional. Tapi entah ya, perasaan khawatir ataupun minder tidak begitu saya rasakan. Yang ada justru sebaliknya. Optimis dan yang tidak pernah berubah dari dulu, narsis!

Mungkin seharusnya saya mensyukuri itu. Sederhana ya?

Ps.
Maaf untuk para penulis chicklit dan metropop. Saya tidak bermaksud mencela, hanya sebagai perbandingan saja. Bagaimanapun, saya sangat menikmati adegan-adegan yang kadang lucu, aneh, konyol dan bikin nangis.
Seringnya nangis ketika baca ending, memang dasar manusia slang-air.

20 May 2008

wedding, east vs west

Beberapa hari lalu saya datang ke resepsi pernikahan teman kantor. Sekarang memang memang tradisinya begitu ya, kecuali mungkin untuk prosesi pernikahan tradisional. Yang saya hadiri kemarin tidak beda dengan yang sudah-sudah. Pesta sambil berdiri, pengantin available sepanjang acara berlangsung - kebanyakan berdiri untuk menunggu para tamu yang ingin bersalaman, sementara makanan dan minuman ada di meja khusus - silahkan ambil sendiri. Rasanya kita sebagai tamu datang hanya untuk setor muka ke si pengantin, bahwa kita sudah datang memenuhi undangannya. Sejalan dengan hobi ngaret orang kita, susunan acara yang seperti ini tepat sekali. Tapi saya merasakan ada yang hilang...kok kayaknya tidak ada kekompakan antar tamu ya?

Di salah satu film favorit saya, 4 Weddings and A Funeral, diceritakan 4 prosesi pernikahan ditambah satu prosesi pemakaman membuat yang yang awalnya tidak saling mengenal pun akhirnya menikah. Semua orang datang pada waktunya, mengikuti seluruh rangkaian acara, dari pemberkatan gereja sampai mengantarkan di mempelai menuju mobil bulan madu mereka. Yap, dan ini tentunya menghabiskan berjam-jam. Sementara, kalau di tempat kita, di 'bulan-bulan kawinan', atu orang saja bisa mendapatkan tiga undangan dalam sehari. Jadi ya memang pesta berdiri itu menguntungkan.

Soal 'sesuatu' yang bakal kita berikan ke calon pengantin juga punya cerita sendiri. Kalau dulu, di pesta kawinan biasanya saya melihat tumpukan kado yang dibungkus kertas norak berwarna warni, sekarang saya jarang melihat yang seperti itu. Sesuai dengan prosesi yang semakin praktis, hadiah juga dibuat sama. Tinggal masukkan uang ke dalam amplop, selesai. Hal bagusnya adalah uang itu memang bisa digunakan si pasangan untuk memulai kehidupan baru mereka yang pastinya tak murah. Bukan berarti saya menyukai itu lho! Saya sebenarnya lebih suka membelikan barang sebagai kado. Lebih berkesan pribadi. Bagaimana kita menentukan kado yang tepat, yang tidak pasaran tapi fungsional sekaligus sesuai dengan selera personal pihak yang diberi kado bukanlah hal mudah.

Repotnya, ketika kriteria memilih kado lebih menekankan pada aspek fungsionalnya, plus dipengaruhi oleh keterbatasan waktu memilih, kadang bisa mengakibatkan efek agak tidak menyenangkan bagi si pasangan pengantin. Buat apa sepasang manusia memiliki 10 motif tea set, 12 set seprai atau 27 lembar handuk. Nah, untuk mengatasi hal itu, saya lebih suka dengan pemberian kado a la barat. Yaitu dengan mendaftarkan hadiah yang kita mau. Itu yang berlaku di tempat Carrie Bradshaw. Pihak yang punya hajat akan menghubungi satu atau beberapa toko untuk mendaftarkan diri dan memilih kado yang diinginkan. Dan undangan akan menerima daftar itu dan membeli alah satu barang yang ada dalam daftar. Tak kalah praktis, dan melegakan semua pihak. Yang memberi kado tak perlu repot-repot memilih, sementara yang diberi kado juga tak mendapatkan beberapa barang yang sama sekaligus.

Tapi mungkin nggak ya, itu diterapkan di sini? Di mana budaya sungkan masih sangat berlaku. Mungkin nanti, entah kapan saya akan memulainya :) Aha...berarti mulai sekarang saya harus sering-sering window shoping, ahahaha, menyenangkan sekali!

19 April 2008

finding the right one

Kenapa saya menulis mengenai ini? Karena memang rasanya tidak pernah bosan mengulik problem yang satu ini, apalagi dengan sesama perempuan lajang. Mau itu sambil makan siang, ngopi atau sekedar curhatan sebelum bobok.

Atau di pagi hari, di acara curhat sebuah radio. Baru saja, mistery guest saya bercerita tentang keraguannya pada pasangan, apa iya orang seperti dia yang nanti akan saya jadikan imam? Awalnya saya agak kecewa dengan topik curhatan yang menurut saya kurang seru, apalagi si MG ini sudah mendaftarkan diri untuk curhat sejak seminggu lalu. Saya pikir dia akan menceritakan sesuatu yang bombastis semisal perselingkuhan atau seks premarital. Tapi setelah mendengar ceritanya yang mengalir mengenai keraguan-keraguan, perbedaan karakter, saya jadi setengah ingin tertawa, setengahnya lagi membenarkan.

Bukankah itu yang kita lihat setiap harinya? Bukankah itu yang kita alami setiap hari? Kita rasakan setiap hari? Kita dan pasangan kita. Bagaimana karakter yang beda akhirnya tidak saling berbenturan. Dan meskipun kita mengerti benar bahwa secara karakter kita dan pasangan tidak cocok, tapi kita juga mengerti bahwa perasaan sayang akhirnyalah yang merekatkan kembali ketidak sesuaian itu.

Membaca opini-opini yang dikirimkan lewat SMS, atau mendengar langsung cerita dari orang-orang melalui telpon, membuat perasaan saya meluap-luap penuh haru. Teringat pertanyaan saya yang di jawab sama mbak Wulan di Wates tadi. Pertanyaan yang sebenarnya saya sudah tahu jawabannya.

Tidak ada orang yang TEPAT bagi kita. Yang ada adalah USAHA kita untuk membuat orang yang kita sayangi menjadi tepat bagi kita.

Menerima dan mengalah, menjadi pendengar, bukankah itu satu bentuk usaha juga? Dan itu tak pernah mudah.

Banyak...banyak sekali yang saya dapatkan dari acara bincang-bincang kali ini. Dan terhitung untuk yang kesekian kalinya saya menangis di acara ini. Haha...dasar mellow!

11 April 2008

Meg Cabot Fever...after Shopaholic series

Huahh...minggu-minggu belakangan ini buat saya, tiada hari tanpa memegang chicklit. Ada yang bener-bener bagus sampai membuat saya amat sangat (amat sangat lho, ya?) terkesan, sampai yang biasa-biasa saja, artinya tidak menimbulkan gelembung emosional selesai saya membacanya. Ada juga yang parah banget, sampai saya kembalikan begitu memasuki halaman ke seratus sekian...

Ada yang begitu luar biasanya sampai membuat saya tergila-gila. Dan berteriak histeris (sampai dilihatin orang sekantor) begitu tau seri yang itu akan difilmkan. Mudah-mudahan SEMUA seri dari petualangan Rebecca Bloomwood akan difilmkan. Tidak seperti seri Princess Diaries yang cuma ada dua film dari nyaris puluhan seri novelnya.

Setelah demam Rebecca Bloomwood, sekarang saya lagi gandrung banget dengan tingkah para pegawai The New York Journal. Bagaimana mengintip satu persatu dari mereka menemukan belahan jiwa dari peristiwa-peristiwa yang (selalu) aneh. Yang paling saya suka adalah yang
ini.

Yang membuat saya heran, kenapa ya pria-pria di chicklit yang serba segalanya selalu akhirnya jatuh cinta pada cewek tak sempurna yang hobi merepet seperti Kate Mackenzie atau Emma Corrigan? Dan kelihatannya pola chicklit dari dua penulis serial favorit saya Sophie Kinsella dan Meg Cabot selalu sama. Tentang cewek selalu bermasalah dengan dirinya yang baru saja gagal menjalin hubungan akhirnya ketemu dengan pria sempurna yang jatuh cinta pada mereka justru karena ketidaksempurnaan mereka. Cewek-cewek itu, maksud saya. Tapi bagaimanapun tertebaknya ending chicklit, saya tetap tak bisa menolak mengakui bahwa itu membuat saya tersenyum. Selalu.

Ya Tuhan, setelah membaca ulang apa yang saya tulis di atas, akhirnya saya menyadari satu hal. Betapapun selama ini saya selalu menganggap fairy tale sebagai omong kosong besar, ternyata dalam hati saya mengidap semacam kepercayaan akut bahwa fairy tale itu ada. Apapun bentuknya.

PS: Dan saya menunggu Hollywood melayarlebarkan Boys Seriesnya Meg Cabot.

09 April 2008

googling

Singkat saja, kemarin ada pendengar di radio saya yang menelpon dan mengatakan bahwa beliau baru saja menggoogle nama saya plus nama radio tempat saya bekerja sekarang. Aneh saja rasanya ada orang yang mencari saya sampai sebegitunya. Studio juga nggak terlalu jauh, dan buat ketemu saya, tentu saja bisa kapan aja ketika saya siaran. Tapi mendengar perjuangan mas A ini, saya jadi terharu plus setengah gedhe kepala. Gimana ya, digoogling orang lain, serasa seleb aja :)

Namun sayang sekali, karena spelling nama saya agak-agak unik - dengan dua 'n' tanpa 'h' apalagi 'y' seperti yang selama ini banyak diduga orang - maka pencarian mas A sia-sia saja. Akhirnya beliau mengambil jalan pintas, menelpon studio ketika saya siaran dan menanyakan email saya. Lebih gampang kan? Tapi terima kasih ya, untuk usahanya :)

Urusan googling menggoogling memang bisa menimbulkan kelucuan tersendiri. Seperti teman saya yang ini, yang memang punya nama agak unik, sengaja menggoogling namanya sendiri. Eh, ternyata ada yang bernama sama, dan sampai sekarang para pemilik nama kembar yang ketemu gedhe ini masih saling berkirim email.

Saya sendiri, selain pernah digoogling, juga punya hobby menggoogling orang lain. Terutama gebetan. Meski jarang sekali berhasil, karena gebetan-gebetan saya rupanya jarang meninggalkan jejak di dunia maya. Ada satu, pria yang ketika saya lakukan pencarian dengan namanya sebagai keyword, memunculkan lebih dari 800 artikel.

Pria ini bukan seseorang yang terlalu spesial, hanya dua kali pertemuan perkenalan dan tiga kali lagi bertemu sebagai pasangan kencan. Waktu itu saya sempat bercanda dengan seorang teman, setidaknya ketika dia memenangkan hadiah nobel atau melakukan entah apa suatu hari nanti dan seluruh dunia mengenalnya, saya bisa berkata pada diri saya 'di suatu waktu dalam kehidupan saya yang lalu, saya pernah mengenalnya lebih dekat dari bagaimana orang lain sekarang mengenalnya'.

12 March 2008

misteri terbesar di dunia

Apa? Apa misteri terbesar di dunia? Mungkin saya sudah menemukan satu. Tapi nanti dulu.
Saya ingin sedikit mengingat apa yang pernah saya baca, lihat ataupun alami.


Pertama, Serial Harry Potter yang fenomenal.
Tepatnya di buku-buku terakhir, ketika para penyihir muda kita mulai mengalami pubertas, dan saling lirik sana sini di tengah-tengah misi menumpas sihir hitam. Ada banyak peristiwa yang menjelaskan bingungnya Harry menghadapi sikap Cho dan Hermione. "Seharusnya itu yang mereka ajarkan kepada kami, bagaimana cara kerja otak anak-anak perempuan".


Kedua, novel legendaris Romo Mangun "Burung-Burung Manyar".
Ketika pikiran Teto mencoba menyelami pemikiran Marice, mamanya. "Wanita adalah misteri besar. Mereka seperti bungkus berlapis-lapis. Sementara kaum pria adalah lapisan terluarnya yang mudah sekali terkelupas".


Dari lebih banyak lagi referensi, ternyata saya menemukan bahwa misteri terbesar di dunia bagi para pria adalah 'hati wanita'. Bagaimana dengan wanita? Mari-mari, menuju ingatan saya yang ini.


Mengenai satu adegan di film Great Expectations yang juga menampilkan tubuh polos Gwyneth Paltrow.
Ada satu adegan liris yang membuat hati saya uhm...apa ya istilahnya, prihatin sekaligus gemas. Percakapan antara Finnegan Bell dan Estella, di satu sore ketika segala sesuatunya serba keemasan. Di satu tempat di New York, di mana jembatan, daun-daun dan segala sesuatunya berkilau di bawah cahaya matahari.
Estella : Walter wants me to marry him
Finn : Why did you tell me?
Estella : I want you to say something
(Ada jeda yang tak mengenakkan, saya yakin, bagi keduanya)
Finn : Congratulation
Apa sih, yang dipikirkan Finn ketika mengucapkan kata C itu? Jelas-jelas dia mengerti apa yang dimaksudkan Estella. Bukankah mata dan gesture berbicara lebih banyak daripada bibir. Charles Dickens memahami sekali bagaimana merasakan sebuah 'gamang'.
Dengan banyaknya artikel tentang psikologi pria di majalah-majalah wanita - yang selalu saya baca pertama kali - saya menemukan bahwa hal yang sama juga berlaku bagi kami, kaum wanita.
Bagi saya, sampai saat ini, misteri terbesar di dunia adalah apa yang ada di ikiran lawan jenis. Saya menjadi host acara curhat wanita selama lebih dari setahun. Tapi sampai sekarang, rasanya belum ada rumusan atau pola yang tepat mengenai hal itu.

16 January 2008

kembali, tentang bapak murah senyum...

Setelah hampir setahun kami saling bertegur sapa setiap pagi saya berangkat dan siang saya pulang hanya dengan kata 'mari!', akhirnya hadir juga peningkatan yang saya harapkan. Tidak banyak, tapi sesuai dengan harapan saya dulu, lebih dari sekedar 'mari...'.

Beberapa hari belakangan, langit masih murah hati mencurahkan hujan, meskipun beberapa pihak menggerutu karenanya. Males ke kantor ketika pagi-pagi membuka pintu telah disambut hujan, dan keluhan-keluhan sejenis.

Satu kali, saya pulang lebih siang dari biasanya. Membawa payung merah yang memang telah menjadi penghuni tetap tas saya sejak seminggu lalu. Ketikaakan menyeberang jalan, saya melihat bapak itu dari kejauhan. Menunggu kendaraan habis agar ia bisa mencapai sisi jalan satunya. Mengenakan kaus lusuh, pemberian dari salah satu partai entah apa. Tak berpayung. Meskipun saat itu hujan tak begitu deras, namun karena ia berdiam lama di sisi jalan, tak urung saya melihat kepala dan bahunya basah juga.

Sampai akhirnya saya berdiri di sebelahnya, kendaraan tak juga berhenti. Wajar, karena waktu itu masih terhitng jam makan siang.

"Mau menyeberang, Pak?"
Dia menoleh, mulutnya terbuka membentuk senyuman. Saya melihat beberapa gigi depannya telah tanggal.
"Mari saya antar. Saya juga mau menyeberang. Sini, masuk di payung saya, biar tidak basah. Darimana tadi?"
"Oh, ini...beli ini, buat istri saya," katanya sambil menunjukkan bungkusan plastik hitam.

Dan percakapan memang sesingkat itu, karena detik berikutnya kepadatan kendaraan sudah berkurang, dan saya menggandengnya - setengah menarik - untuk menyeberang. Sampai di masjid - yang selalu terlihat bersih berkat kerajinan bapak ini - sudah banyak orang berpakaian rapi hendak sholat. Pantas saja beliau terlihat buru-buru, pasti tidak ingin ketinggalan untuk berjamaah. Sampai di depan pintu rumahnya, beliau mengucapkan terima kasih.

Perjumpaan kecil siang itu merefleksikan banyak hal-hal kecil dalam benak saya. Ingatan saya akan sebagian kecil kulit keriputnya yang baru saja saya sentuh membuat saya berpikir mengenai masa tua. Seperti apa kalau saya tua nanti? Apakah kehidupan yang saya jalani akan mampu membuat saya sedikit lebih bijak? Ataukah usia akan memikunkan saya, sehingga saya kembali menjadi kerdil, merepotkan orang-orang di sekeliling saya?

Dan mengenai pasangan jiwa. Bapak itu dan istrinya adalah pasangan jiwa bagi saya. Barangkali mereka tidak jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi mereka saling menolong ketika tua. Pengertian datang dengan sendirinya dari apa yang dijalani bersama, bukan dari banyak pembicaraan ataupun kesepakatan. Hal yang tidak bisa - atau belum bisa - saya capai, bahkan ketika usia saya hampir menginjak seperempat abad.


Selalu seperti ini. Hal-hal kecil yang berbuntut panjang dalam pikiran...

09 October 2007

age is just a number

Semalam, salah seorang teman mengatakan ini:

"Age is just a number. I don't even fucking care!"

Saya tercenung mendengarnya. Benar juga. Orang-orang di lingkungan kita tampaknya sudah sangat terbiasa untuk peduli - untuk tidak menyebut nyinyir - dengan orang-orang di sekelilingnya. Parahnya, adalah ketika mereka mengukur segala berdasarkan isi kepala mereka. Menempatkan foto orang lain dalam frame mereka. Termasuk dalam hal usia.

Kalau usia dijadikan batasan untuk menentukan kebijakan seperti misalnya hak pilih yang secara otomatis dimiliki oleh setiap warga negara berusia di atas 17 tahun, itu saya tak mempermasalahkan. Tapi ketika usia digunakan untuk mengukur sesuatu yang absurd, kok rasanya kurang pas ya? Masalahnya setiap orang memiliki fase kehidupan yang berbeda. Lingkungan pergaulan, bahan bacaan, film yang ditonton, akan membuat setiap manusia menjadi sosok unik nan istimewa. Masalahnya, ada segelintir orang yang kurang bisa menerima perbedaan. Dan akan lebih sulit lagi kalau itu adalah orang yang dekat dengan kita. Keluarga misalnya. Untuk teman-teman yang masih single, sering kan, dengan kalimat seperti ini di acara kumpul-kumpul keluarga?

Sudah dua puluh empat, kok nggak cari pacar? Mau menikah di usia berapa?

Tak ada peraturan tertulis yang mengatakan bahwa gadis berusia dua puluh empat tahun harus sudah punya pacar, yang sebentar lagi akan mengajaknya menikah. Ah, kadang-kadang masih lagi ditambah dengan kalimat embel-embel yang bagi saya tak masuk akal.

Nggak usah pilih-pilih. Nanti malah nggak dapat. Yang penting baik, saleh dan hormat pada orang tua

Bukannya saya nggak menghargai pemikiran praktis semacam di atas, tapi memang di jaman sekarang, rasanya pemikiran seperti itu kok terkesan menyepelekan ya? Kita sedang berbicara mengenai pasangan lho, bukan piring atau sendok garpu yang semata-mata fungsional. Asal bisa buat makan dan bersih, cukup. Kalau pasangan hidup dinilai secara fungsional saja, ya memang gampang. Asal bisa bikin anak, yah...bolehlah.

Tapi kita membutuhkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih bermakna di sini. Sesuatu yang tak dapat diukur. Sesuatu yang kita biasa sebut chemistry. Sesuatu yang akan membuat kita bertahan dari apapun.

Jadi, untuk apa usia dijadikan pembatas kehidupan. Apapun itu, itu hanyalah sebuah fase, dan tidak semua orang harus melewatinya dalam satu batas yang sama.

Some say, life begins at 40. Some other say, life begins at 30.

For me, life begins at every age of your life, as long as you want to...

01 September 2007

hidup tidak berakhir hanya dengan sebuah 'yes, Ido'

Sewaktu Anda kecil, pasti (setidaknya sekali) pernah bersentuhan dengan fairy tale kan? Meskipun terdiri dari bermacam variasi, namun intinya selalu sama. Pangeran dan putri, dalam berbagai bentuk dan perwujudan. Dan satu hal lain yang menyamakannya adalah ending. Ciuman dalam kotak kaca, ciuman di balkon, ciuman di lantai dansa. And the story ends.

Begitu juga dengan komedi romantis, salah satu tontonan kesukaan saya. Selalu hadir dengan plot yang sama. Bertemu, konflik dan berakhir dalam sebuah ending yang mampu melelehkan hati, pada sebuah 'yes, I do'. Meskipun selalu berakhir dengan happy, namun hampir selalu membuat saya menangis lantaran terharu.

Sayangnya, dalam kehidupan nyata, skenario selalu tak tertebak. Dan ketika berurusan dengan hati, komedi romantis dan fairy tale tidak bisa dijadikan patokan.

Banyak orang mengatakan jatuh cinta itu sulit. Bagi saya, memutuskan untuk terus bersama dengan seseorang itu lebih sulit lagi. Karena susunan struktur tubuh manusia yang rumit, pada akhirnya membawa karakter emosional yang bahkan lebih rumit lagi. Di sinilah akan terjadi benturan-benturan dan gesekan-gesekan yang sebenarnya tak diinginkan. Tapi kita juga diberi pilihan untuk melapangkan atau menyempitkan hati. Kalau saja kita mampu mengatur keseimbangan, maka segala macam gesekan dan benturan itu tak lagi ada artinya. Akan tetap ada, hanya tidak mengganggu saja.

Fairy tale dan komedi romantis berdurasi terlalu singkat sehingga tidak memungkinkannya memuat semua kompleksitas di dunia nyata. Lagipula, apa sih yang mereka lakukan. Pekerjaan pengeran hanyalah berkuda, latihan berkelahi dan mencari istri ke pelosok negeri. Satu jenis kehidupan yang tidak perlu pusing bila harga susu yang melambung naik atau tidak ada stress karena dikejar deadline.

Dan sebenarnya, apa sih moral lesson yang coba saya sampaikan? Nggak ada. Kalau Anda kebetulan membaca dan mengena, yah, barangkali kehidupan Anda sedang sedikit rumit sehingga tulisan apapun yang Anda baca tampaknya bersinggungan dengan kehidupan pribadi Anda. Tapi sungguh, saya tak bermaksud apa-apa dengan tulisan ini.

21 August 2007

seorang perempuan indonesia berbicara

Sebagai perempuan Indonesia, saya terusik. Sebagai seseorang yang berteman dengan banyak 'bule', saya merasa harus angkat bicara. Membaca satu blog yang ditulis seorang bule yang sudah lama tinggal di Indonesia, saya merasa tertampar. Tapi wajib membela diri. Mas-mas bule ini mungkin lebih Indonesia dibanding kebanyakan orang Indonesia lainnya. Profilnya di friendster sangat jujur, tanpa tedheng aling-aling. Suka dengan cewek Indonesia yang tidak suka dengan bule.

Saya salut dengan mas yang satu ini (yang juga teman dari sahabat saya), tapi di satu sisi, saya ingin menawarkan perspektif lain. Barangkali sebagian dari perempuan Indonesia memang seperti yang digambarkan oleh mas ini, berdekatan dengan orang kaukasoid dengan maksud untuk perbaikan keturunan, pamer, menaikkan gengsi dan sederet alasan lain. Barangkali sebagian dari kita, orang Indonesia masih memandang tinggi mereka yang berkulit putih. Menganggap pribumi dan bule itu berbeda. Dan si mas Perancis ini takut didekati perempuan Indonesia yang membawa misi-misi tertentu tersebut.

Tapi di sisi lain, suka adalah semata-mata selera. Dan selera tak pernah layak untuk dijadikan kambing hitam. Dan selalu ada alasan dibalik selera, bukan?

Satu hal, ketika membaca blognya (masih orang yang sama), saya juga jadi terusik untuk berkomentar. Mas ini mengkategorikan orang bule yang tinggal di Indonesia, dan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Saya sudah membacanya, setengah membenarkan, tapi juga setengah kecewa, jika kategori yang ada ternyata kurang dari sepuluh. Manusia memiliki karakteristik dan kehidupan yang kompleks, tidak cukup dimasukkan dalam penggolongan yang kurang dari jumlah jari kita. Saya kesulitan menemukan akan masuk ke yang mana saya, seandainya saya berkesempatan tinggal di luar negeri nanti. Tak satupun dari yang ditulis oleh si mas bule ini yang mengakomodasi karakteristik saya.

Oh, dan mau menambahkan satu hal lagi, bahwa dalam tiap tulisannya, mas ini menyebut bule dan lokal dengan begitu jelas sehingga perbedaan dikotomis lokal dan non-lokal sangat terasa. Nah, dengan begitu, siapa yang sebenarnya membuat jurang perbedaan?

Saya tidak menyalahkan dia, hanya merasa sedikit terusik saja, mengingat saya pernah 'berteman' dengan seorang bule. Jangan-jangan kalau mas ini bertemu saya secara visual, dia langsung ilfil hanya karena alasan tersebut. Saya percaya, selalu ada alasan dibalik opini seseorang. Barangkali pengalaman yang terlalu banyaklah, yang membuat mas tersebut berpendapat demikian.

20 August 2007

kalau saja saya di amerika

Beberapa hari lalu, tepatnya jam 4 sore, saya mampir ke minimarket sepulang meeting di kantor. Niat sih membeli lotion baru. Cuma lotion, tapi buat milih-milih saja menghabiskan waktu lebih dari setengah jam. Penuh dengan pertimbangan-pertimbangan kuantitas, kualitas dan merek. Oh jangan lupa, juga bahan-bahan yang digunakan, kalau bisa jangan yang berpotensi menimbulkan kanker kelak.

Akhirnya terpilih satu.

Dan hup! Habis mandi rencana pengen banget nyoba hasil perburuan ini. Eh, kok alot ya, segelnya. Tebel banget, digunting pun nggak bisa. Dikuwik-kuwik pakai kuku dan walhasil... adaw!

Kuku yang sudah dipolish rapi patah, dalem ... dan sakit.

Tapi saya bisa apa? Coba kalau saya adalah penduduk di negaranya Homer Simpson, saya pasti bisa mendapat ribuan dollar dengan menuntut ke produsen produk yang bersangkutan, dengan biaya pengacara kurang dari sepertiganya.
Mereka, produsen, benar-benar sangat diuntungkan dengan konsumen yang enggan membuka mulut.