Showing posts with label tentang pilihan. Show all posts
Showing posts with label tentang pilihan. Show all posts

16 December 2008

another wierd day...

...said my friend.

Kemarin banyak hal baru yang saya temui sepanjang hari. Hati saya rasanya mau meledak karena luapan perasaan dari pagi yang berdatangan. Sebagian pelan, dan menimbulkan melankolia. Tapi ada juga yang datang begitu tiba-tiba, menyebabkan keterkejutan.

Barangkali luapan-luapan perasaan itu juga diebabkan oleh cuaca. Hujan mengguyur Jogja sepanjang pagi, membuat siapapun malas keluar rumah. Inginnya ditemani secangkir kopi panas mengepul, membaca majalah atau nonton DVD, atau membicarakan hal-hal ringan bareng sama pacar. Kalau saja tidak ada kewajiban untuk masuk kuliah pagi buta, atau kalau ibu dosen yang mengajar kuliah jam pertama tidak sebaik dia, pasti saya akan menyerahkan diri kembali pada selimut. Tapi kita memang cenderung patuh pada orang yang baik.

Saya terlambat 40 menit, memakai sendal jepit, namun masih dipersilahkan masuk dengan sangat manis. "Nggak apa-apa, ayo silahkan masuk saja."

Selepas kuliah, saya ngopi dengan seorang teman. Selama hampir lima bulan berada di kelas yang sama, dengan jumlah mahasiswa kurang dari limabelas, jarak diantara kami termasuk jauh. Acara ngopi bareng itu menjadi ajang perkenalan kami berdua. Banyak hal yang saya refleksikan dari dua jam obrolan ringan itu.

Dari kampus, saya langsung ke kantor karena ada penjadwalan ulang meeting setelah yang sebelumnya tidak memungkinkan berlangsung. Dan pertemuan kali itu ditutup secara mengejutkan oleh sahabat saya yang tiba-tiba mengundurkan diri. Bukan tiba-tiba sebenarnya, tapi keputusan itu udah melewati bukan hanya atu dua pertimbangan.

Saya sedih, felt I left alone. Tapi saya senang, sungguh! Bahwa satu dari kami berdua telah memenangkan akal sehatnya dan memilih untuk move on. Congratulation!

Dan semua itu membuat perasaan saya bertumpuk-tumpuk dan penat.


21 August 2007

seorang perempuan indonesia berbicara

Sebagai perempuan Indonesia, saya terusik. Sebagai seseorang yang berteman dengan banyak 'bule', saya merasa harus angkat bicara. Membaca satu blog yang ditulis seorang bule yang sudah lama tinggal di Indonesia, saya merasa tertampar. Tapi wajib membela diri. Mas-mas bule ini mungkin lebih Indonesia dibanding kebanyakan orang Indonesia lainnya. Profilnya di friendster sangat jujur, tanpa tedheng aling-aling. Suka dengan cewek Indonesia yang tidak suka dengan bule.

Saya salut dengan mas yang satu ini (yang juga teman dari sahabat saya), tapi di satu sisi, saya ingin menawarkan perspektif lain. Barangkali sebagian dari perempuan Indonesia memang seperti yang digambarkan oleh mas ini, berdekatan dengan orang kaukasoid dengan maksud untuk perbaikan keturunan, pamer, menaikkan gengsi dan sederet alasan lain. Barangkali sebagian dari kita, orang Indonesia masih memandang tinggi mereka yang berkulit putih. Menganggap pribumi dan bule itu berbeda. Dan si mas Perancis ini takut didekati perempuan Indonesia yang membawa misi-misi tertentu tersebut.

Tapi di sisi lain, suka adalah semata-mata selera. Dan selera tak pernah layak untuk dijadikan kambing hitam. Dan selalu ada alasan dibalik selera, bukan?

Satu hal, ketika membaca blognya (masih orang yang sama), saya juga jadi terusik untuk berkomentar. Mas ini mengkategorikan orang bule yang tinggal di Indonesia, dan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Saya sudah membacanya, setengah membenarkan, tapi juga setengah kecewa, jika kategori yang ada ternyata kurang dari sepuluh. Manusia memiliki karakteristik dan kehidupan yang kompleks, tidak cukup dimasukkan dalam penggolongan yang kurang dari jumlah jari kita. Saya kesulitan menemukan akan masuk ke yang mana saya, seandainya saya berkesempatan tinggal di luar negeri nanti. Tak satupun dari yang ditulis oleh si mas bule ini yang mengakomodasi karakteristik saya.

Oh, dan mau menambahkan satu hal lagi, bahwa dalam tiap tulisannya, mas ini menyebut bule dan lokal dengan begitu jelas sehingga perbedaan dikotomis lokal dan non-lokal sangat terasa. Nah, dengan begitu, siapa yang sebenarnya membuat jurang perbedaan?

Saya tidak menyalahkan dia, hanya merasa sedikit terusik saja, mengingat saya pernah 'berteman' dengan seorang bule. Jangan-jangan kalau mas ini bertemu saya secara visual, dia langsung ilfil hanya karena alasan tersebut. Saya percaya, selalu ada alasan dibalik opini seseorang. Barangkali pengalaman yang terlalu banyaklah, yang membuat mas tersebut berpendapat demikian.