Showing posts with label melankolia. Show all posts
Showing posts with label melankolia. Show all posts

16 December 2008

another wierd day...

...said my friend.

Kemarin banyak hal baru yang saya temui sepanjang hari. Hati saya rasanya mau meledak karena luapan perasaan dari pagi yang berdatangan. Sebagian pelan, dan menimbulkan melankolia. Tapi ada juga yang datang begitu tiba-tiba, menyebabkan keterkejutan.

Barangkali luapan-luapan perasaan itu juga diebabkan oleh cuaca. Hujan mengguyur Jogja sepanjang pagi, membuat siapapun malas keluar rumah. Inginnya ditemani secangkir kopi panas mengepul, membaca majalah atau nonton DVD, atau membicarakan hal-hal ringan bareng sama pacar. Kalau saja tidak ada kewajiban untuk masuk kuliah pagi buta, atau kalau ibu dosen yang mengajar kuliah jam pertama tidak sebaik dia, pasti saya akan menyerahkan diri kembali pada selimut. Tapi kita memang cenderung patuh pada orang yang baik.

Saya terlambat 40 menit, memakai sendal jepit, namun masih dipersilahkan masuk dengan sangat manis. "Nggak apa-apa, ayo silahkan masuk saja."

Selepas kuliah, saya ngopi dengan seorang teman. Selama hampir lima bulan berada di kelas yang sama, dengan jumlah mahasiswa kurang dari limabelas, jarak diantara kami termasuk jauh. Acara ngopi bareng itu menjadi ajang perkenalan kami berdua. Banyak hal yang saya refleksikan dari dua jam obrolan ringan itu.

Dari kampus, saya langsung ke kantor karena ada penjadwalan ulang meeting setelah yang sebelumnya tidak memungkinkan berlangsung. Dan pertemuan kali itu ditutup secara mengejutkan oleh sahabat saya yang tiba-tiba mengundurkan diri. Bukan tiba-tiba sebenarnya, tapi keputusan itu udah melewati bukan hanya atu dua pertimbangan.

Saya sedih, felt I left alone. Tapi saya senang, sungguh! Bahwa satu dari kami berdua telah memenangkan akal sehatnya dan memilih untuk move on. Congratulation!

Dan semua itu membuat perasaan saya bertumpuk-tumpuk dan penat.


18 June 2008

the world of my own

...seandainya, di sekitar kita, semua sama...

Kalimat pertama dari lirik lagu Tia (waktu masih pakai titel AFI di belakang namanya), Di Sekitar Kita. Daleeem banget, mau tak mau jadi inget 'dia', dan memang lagu ini pagi ini saya kirimkan buat dia. Enaknya jadi penyiar radio, kalau ada uneg-uneg di hati, langsung bisa dikeluarkan lewat lagu.

Tapi habis dengerin lagu itu, kok jadi pengen coba-coba dengerin lagu lain ya? Nah, ada beberapa list yang saya dengerin hari ini, di antaranya :

Dakota Moon, A Promise I Make
Dari awal dulu, jaman-jaman SMU, pertama kali menyimak lirik lagu ini, langsung jatuh cinta habis-habisan deh. Gimana ya, kok bisa ada orang yang merangkai kata-kata seindah ini?

Lighthouse Family, Lost In Space
Aiiih, dalem liriknya. Sama deh, ama yang di atas. Kok bisa ya, orang merangkai kata-kata seperti itu?

Coldplay, The Scientist
Ngaku deh, nggak ada alasan untuk nggak suka lagu ini kan? Tell me you love me, comeback and haunt me. Oh and I rust to the start...

Dygta feat Meda, Hampa Dirimu
Dari film yang (menurut saya) kurang bagus, Me vs High Heels, tapi lagu-lagu di album soumdtracknya hampir semua bagus. Salah satunya, yang ini.

Efeknya, setelah mendengarkan lagu-lagu tadi, menjadikan hari ini sebagai another mellow day. Tapi maaf ya, kali ini saya nggak pengen membaginya dengan siapa-siapa.

07 June 2008

romansa detik terakhir

...atau last second romance, saya menyebutnya. Pernahkah Anda memperhatikan adegan-adegan ending di film - drama romantis khususnya - ketika si tokoh utama harus mendapatkan sesuatu, sementara waktu terus berlari dan rasanya mustahil untuk sampai di tempat pada waktunya. Yah, kira-kira seperti repotnya Hugh Grant sekeluarga untuk mendatangi konferensi pers Julia Roberts di Notting Hill. Hmm, seandainya kejadian nyata bisa diset sedemikian rupa, sehingga kita selalu dapat tiba di tempat pada waktunya, atau kalaupun beberapa menit terlambat, kita pasti terpikir untuk mengatakan sesuatu yang heroik sehingga selalu diijinkan untuk tetap melakukan apa yang jadi tujuan Anda.

Dalam hidup, saya selalu menginginkan hal itu terjadi. Bagi saya, hal-hal heroik semacam itu berkesan romantis. Seperti misalnya, saya akan lebih suka dilamar dengan cara spektakuler daripada acara lamaran konvensional menghadap orang tua. Tapi kalau soal itu sih, tergantung juga sama yang melamar ya.

Yup, kembali lagi ke romansa detik terakhir tadi. Kemarin malam baru saja saya mengalaminya, menjadi pelaku romansa detik terakhir. Saya menggambarkan diri saya saat itu seperti tokoh novel atau buku dalam sebuah ending. Waktu, kesempatan, dua kata itu bermunculan di benak saya. Saya memutuskan untuk mengambil resiko. Melakukan sesuatu, dan bukannya cuma duduk diam menunggu. Meskipun jika menunggu aja barangkali hasilnya akan lebih baik lagi.

Kurang jelas? Oke, barangkali saya perlu bercerita lebih detail.

Kemarin malam, hubungan saya berada di ujung tanduk, atau setidaknya begitu bagi saya. Saya melakukan hal yang saya tahu dia tidak bakal menyukainya. Saya melakukannya sekedar untuk membuat dia marah, karena saya kecewa. Kurang bijaksana? Memang, saya sadar itu. Bisa dibilang, yang muncul kemarin malam adalah the impulsive Kennisa. Benar dugaan saya, dia marah. Belum pernah saya melihat kekasih saya sedingin itu. Saya merasa bersalah, tentu aja. Yang terlintas dalam pikiran saya dalam waktu-waktu seperti itu pastinya hanya satu hal. Barangkali malam ini akan menjadi sebuah akhir.

Dan seandainya harus berakhir sekarang, ada satu hal yang ingiiiin sekali saya lakukan. Saya tidak memikirkan sukses tidaknya rencana itu. Saya hanya ingin dia tiba-tiba melihat saya di tempat yang sama sekali tidak diduganya. Rumah Sakit, karena memang di sanalah dia berada saat itu. Masih dengan rambut basah, saya menyambar tas dan mengisi dengan barang sekenanya, lalu keluar mencari taksi. Tujuan saya cuma satu, rumah sakit langganan dia.

Sampai di depan UGD, saya mencoba mengirim pesan kepadanya. Tak berani menelpon, karena selalu direject. Dan, shit! Handphone saya lowbat. Saya mendapatkan jawabannya dalam waktu singkat, ketika nyawa handphone saya tinggal sejengkal.

"Ada apa di ... (nama Rumah Sakit langganannya)?"

Saya menjelaskan bahwa saya ada di luar dan menunggunya keluar. Sampai jam berapapun. Dan saat itu juga, alat komunikasi saya mati. Saya berlari menuju wartel, untuk menghubungi dia. Tak ada jawaban. Sampai akhirnya terima kasih Tuhan, tangan saya meraba charger di tas. Lantas, dengan memelas, saya memohon bapak penjaga wartel untuk mengijinkan saya menghidupkan handphone sebentar saja. Dan benar, ada satu pesan jawaban dari dia.

"Aku di ... (Menyebut nama rumah sakit yang berjarak beberapa kilometer dari rumah sakit tempat saya berada sekarang). Sayang kenapa di RS? Sebenernya aku mau ke tempat kamu, tapi kamu pergi?"

Ya, Tuhan. Saya tak tahu harus menangis atau tertawa. Sesuatu yang saya prediksikan untuk menjadi heroik, romantis sekaligus sedih, pendek katanya emosional, kenapa jadinya malah konyol begini. Dan yah, akhirnya saya bertemu dia. Banyak yang ingin saya katakan, emosi yang ingin saya tumpahkan, tapi saya terlalu capek. Dan geli.

Dan kelanjutan cerita rasanya tak usah saya ceritakan aja. Yang pasti tidak seperti pikiran negatif saya sebelumnya, malam itu bukan sebuah akhir. Dan ya, saya sangat bahagia.

For you, you know who you are...
Thank you, for the love, the understanding...
And every little things you do...
(Dan maaf, isi SMSnya aku tulis di sini)

19 April 2008

finding the right one

Kenapa saya menulis mengenai ini? Karena memang rasanya tidak pernah bosan mengulik problem yang satu ini, apalagi dengan sesama perempuan lajang. Mau itu sambil makan siang, ngopi atau sekedar curhatan sebelum bobok.

Atau di pagi hari, di acara curhat sebuah radio. Baru saja, mistery guest saya bercerita tentang keraguannya pada pasangan, apa iya orang seperti dia yang nanti akan saya jadikan imam? Awalnya saya agak kecewa dengan topik curhatan yang menurut saya kurang seru, apalagi si MG ini sudah mendaftarkan diri untuk curhat sejak seminggu lalu. Saya pikir dia akan menceritakan sesuatu yang bombastis semisal perselingkuhan atau seks premarital. Tapi setelah mendengar ceritanya yang mengalir mengenai keraguan-keraguan, perbedaan karakter, saya jadi setengah ingin tertawa, setengahnya lagi membenarkan.

Bukankah itu yang kita lihat setiap harinya? Bukankah itu yang kita alami setiap hari? Kita rasakan setiap hari? Kita dan pasangan kita. Bagaimana karakter yang beda akhirnya tidak saling berbenturan. Dan meskipun kita mengerti benar bahwa secara karakter kita dan pasangan tidak cocok, tapi kita juga mengerti bahwa perasaan sayang akhirnyalah yang merekatkan kembali ketidak sesuaian itu.

Membaca opini-opini yang dikirimkan lewat SMS, atau mendengar langsung cerita dari orang-orang melalui telpon, membuat perasaan saya meluap-luap penuh haru. Teringat pertanyaan saya yang di jawab sama mbak Wulan di Wates tadi. Pertanyaan yang sebenarnya saya sudah tahu jawabannya.

Tidak ada orang yang TEPAT bagi kita. Yang ada adalah USAHA kita untuk membuat orang yang kita sayangi menjadi tepat bagi kita.

Menerima dan mengalah, menjadi pendengar, bukankah itu satu bentuk usaha juga? Dan itu tak pernah mudah.

Banyak...banyak sekali yang saya dapatkan dari acara bincang-bincang kali ini. Dan terhitung untuk yang kesekian kalinya saya menangis di acara ini. Haha...dasar mellow!

25 March 2008

mellow day

Jadi ingat apa yang pernah ditulis sahabat saya di sini. Yap, bener! Subyek yang ada dalam tulisan itu adalah saya. Berawal dari seringnya berganti jam siaran, sampai empat dinding yang merapat menjadi ruang tiga kali empat meter dan didominasi warna merah yang merupakan ruang kerja kami mendengar semuanya. Betapa sahabat saya adalah pendengar yang baik, juga pemberi nasehat yang baik.

Tidak selalu mengenai apa yang terjadi pada hidup saya, kadang-kadang saya membawa ingatannya ke buku-buku yang pernah kami baca atau film yang pernah kami tonton. Dan kesukaan saya akan drama rupanya sangat berdampak pada kelenjar airmata. Saya selalu bergurau bahwa kelenjar airmata saya bekerja lebih keras daripada orang lain. Karena saya menghambur-hamburkan stok airmata kadang untuk hal yang amat sepele.

Seperti pagi ini. Terbawa oleh peristiwa yang saya alami beberapa hari lalu, yang meninggalkan kekecewaan cukup dalam dan membuat saya akhirnya curhat dengan seseorang yang belum terlalu saya kenal. Tapi saya tahu, dia akan menjadi pendengar yang baik, sekaligus penasehat yang baik. Dia merekomendasikan pada saya untuk mengingat film lama "The Way We Were". Film ini menunjukkan betapa sulitnya menjaga sebuah hubungan.

Mendengarkan lagu soundtracknya saja bisa membuat saya menangis tersedu-sedu. Apalagi ketika teringat adegan saat Katie membelai rambut Hubbell dan berkata "Your girl is lovely, Hubbell".

Aah, pokoknya nangis. Masih ada beberapa lagu lama yang saya dengarkan pagi ini yang membuat callbox banjir airmata.

Dasar Miss Mellow!

17 January 2008

ajari saya...

Kadang-kadang saya ingin belajar menjadi buta, ingin mampu menulikan telinga. Ingin menjadi tidak tau. Jika ketika 'tau' itu menimbulkan resah.
Tolong ajari saya....

23 December 2007

tentang sosok alpha

Istilah ini pertama kali saya temukan ketika membaca buku Yann Martell, Life of Phi. Dan saya temukan lagi beberapa waktu lalu ketika sedang blogwalking.

Saya pribadi tidak bisa mendeskripsikan apa sebenarnya maksud dari 'sosok alpha'. Tapi kira-kira saya tau artinya.

Dan menoleh ke belakang, dalam benang-benang kehidupan saya yang lalu, sosok itu pernah ada. Dia menghuni dunia saya, dengan mudahnya bisa mengubah kondisi emosional saya sesuai yang dia mau. Lebih tepatnya, kebahagiaan atau kesedihan saya tergantung pada apa yang dilakukan atau tak dilakukan oleh sosok ini. Kalau Anda pernah mendengarkan lirik lagu yang menurut Anda mustahil ataupun terlalu klise semisal "you're the reason I breath" atau semacamnya, saya merasakan hal itu pada sesosok alpha ini.

Barangkali dia tak sadar, kalau sebegitu dahsyatnya pengaruh perlakuannya bagi emosi saya. Sehingga - yah, namanya juga makhluk dari mars - yang lebih sering yang dilakukannya justru yang lebih memiliki efek negatif bagi saya. Dan saya tak bisa menjelaskan pada dia seperti membuka peta dunia untuk pelajaran geografi. Perasaan adalah sesuatu yang absurd, bukan? Tak terukur.

Dan bukan salahnya juga kenapa masih ada banyak pertanyaan di kepala saya mengenai dia. Sampai saat ini. Barangkali akan saya tanyakan nanti kalau kami bertemu.

Waktu dan saya, yang membuat dia tak lagi menjadi manusia alpha. Dan ketika saya menyadari ini, saya berjanji pada diri saya sendiri, untuk tidak lagi menempatkan satu sosok alpha lain dalam hidup saya.

Menggantungkan diri kita pada seseorang tak pernah menyenangkan, bahkan jika mencintai diri kita sendiri adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan.