Showing posts with label a friend of mine. Show all posts
Showing posts with label a friend of mine. Show all posts

18 December 2008

riwayat secangkir kopi

Belum lama ini, atasan saya meninggal. Mengejutkan memang, mengingat tiga hari sebelum meninggal, saya masih melihat beliau, dan terlihat bagi saya saat itu kondisinya masih baik-baik saja. Saya pulang tanpa pamit kepadanya, karena aya pikir, toh kami maih aling akan bertemu lagi. Dan memang takdir adalah sebuah misteri besar. Siapa yang menyangka, tiga hari setelahnya, ketika saya jalan-jalan di museum, begitu membuka inbox setelah beberapa waktu handphone saya tinggalkan di loker, berita tersebut datang dengan begitu mengejutkan.

Ada banyak sekali kenangan mengingat kami berinteraksi setiap hari. Barangkali secara emosional saya tak terlalu dekat dengan beliau, tidak seperti beberapa teman penyiar lain. Tapi karena setiap hari kami bertemu, ada perasaan kehilangan yang aneh ketika tak lagi melihatnya di kantor.

Bukan tentang itu yang akan saya tulis sebenarnya. Saat ini, saya sedang menikmati secangkir kopi. Beberapa yang tertinggal dari yang sudah pergi, atau yang memilih pergi. Gulanya, berasal dari peninggalan atasan saya. Saya masih bisa mengingat beberapa waktu sebelum beliau meninggal, saya pernah meminta gula kepadanya.

Sedangkan kopi, tentu saja milik sahabat saya yang saya ceritakan di posting sebelumnya. Kalau kebetulan bertemu di kantor, biasanya kami menghabiskan waktu dan saling menceritakan hal nggak penting. Sungguh, saya akan merindukan saat-saat itu.

16 December 2008

another wierd day...

...said my friend.

Kemarin banyak hal baru yang saya temui sepanjang hari. Hati saya rasanya mau meledak karena luapan perasaan dari pagi yang berdatangan. Sebagian pelan, dan menimbulkan melankolia. Tapi ada juga yang datang begitu tiba-tiba, menyebabkan keterkejutan.

Barangkali luapan-luapan perasaan itu juga diebabkan oleh cuaca. Hujan mengguyur Jogja sepanjang pagi, membuat siapapun malas keluar rumah. Inginnya ditemani secangkir kopi panas mengepul, membaca majalah atau nonton DVD, atau membicarakan hal-hal ringan bareng sama pacar. Kalau saja tidak ada kewajiban untuk masuk kuliah pagi buta, atau kalau ibu dosen yang mengajar kuliah jam pertama tidak sebaik dia, pasti saya akan menyerahkan diri kembali pada selimut. Tapi kita memang cenderung patuh pada orang yang baik.

Saya terlambat 40 menit, memakai sendal jepit, namun masih dipersilahkan masuk dengan sangat manis. "Nggak apa-apa, ayo silahkan masuk saja."

Selepas kuliah, saya ngopi dengan seorang teman. Selama hampir lima bulan berada di kelas yang sama, dengan jumlah mahasiswa kurang dari limabelas, jarak diantara kami termasuk jauh. Acara ngopi bareng itu menjadi ajang perkenalan kami berdua. Banyak hal yang saya refleksikan dari dua jam obrolan ringan itu.

Dari kampus, saya langsung ke kantor karena ada penjadwalan ulang meeting setelah yang sebelumnya tidak memungkinkan berlangsung. Dan pertemuan kali itu ditutup secara mengejutkan oleh sahabat saya yang tiba-tiba mengundurkan diri. Bukan tiba-tiba sebenarnya, tapi keputusan itu udah melewati bukan hanya atu dua pertimbangan.

Saya sedih, felt I left alone. Tapi saya senang, sungguh! Bahwa satu dari kami berdua telah memenangkan akal sehatnya dan memilih untuk move on. Congratulation!

Dan semua itu membuat perasaan saya bertumpuk-tumpuk dan penat.


28 November 2008

tentang kawan saya, seorang penyair berinisial FK

Ini adalah posting request. Siapa yang merequest? Salah seorang teman yang belum pernah bertatap muka dengan saya, hanya berkomunikasi lewat udara dan selanjutnya dunia maya.

Ternyata, teman saya ini kenal dengan teman saya yang lain. Seorang penyair, sama seperti teman saya ini. Secara wilayah jajahan mereka juga nggak jauh-jauh banget.

Sebenarnya sudah lama sekali saya tak bertemu dengan si penyair ini. Terakhir kai kami berkomunikasi, kira-kira beberapa bulan lalu, beliau menelpon saya. Tengah malam, menyesuaikan kebiasaannya yang suka tidur larut (atau pagi malah), dan kemungkinan besar, dia sedang membutuhkan teman ngobrol, instead of menyambung tali silaturahmi. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat bahwa si penyair ini punya banyak sekali tenaga untuk bicara, dan sangat sedikit orang yang bisa memahami pembicaraannya.

Oh, dia cerdas, terlalu cerdas malah! Tapi, dia juga sangat idealis, terlalu idealis! Itulah mungkin sebabnya, sedikit sekali orang yang bisa mengerti dia. Pernah sekali saya kelahui dia berhubungan dengan wanita yang juga penyair, muda, cantik, berbakat, dan terkenal di negeri ini. Tak lama, mereka berpisah, dan saya tak pernah tahu sebabnya. Saya hanya mendengarkan ceritanya tanpa pernah banar-benar mendengar.

Belakangan, setahu saya, dia menjalin hubungan lagi yang sepertinya serius, dengan seorang wanita lain Terpelajar, dan menurut ceritanya, cantik. Yah, mudah-mudahan yang ini bisa bertahan selamanya.

Untuk yang merequest postingan ini, maaf, saya tak bisa bercerita terlalu banyak. Kalu pengen tahu lebih banyak lagi, silahkan bertanya langsung pada yang bersangkutan.