Showing posts with label tentang sekitar kita. Show all posts
Showing posts with label tentang sekitar kita. Show all posts

22 November 2008

tentang laskar pelangi

Pasti semua sudah tahu kan, tentang buku dan film fenomenal ini? Apalagi filmnya, yang sampai dua bulan (bahkan sempat diputar di 3 studio sekaligus lho) masih aja antri untuk mendapatkan tiketnya. Akhirnya, siang tadi saya punya kesempatan menyaksikannya juga..

Bukan, bukan Laskar Pelanginya yang ingin saya komentari. Ulasan tentang film ini pasti berjumlah ribuan. Ya, saya sependapat juga bahwa film ini agak kurang sempurna pada perlekatan adegan - ini istilah saya sendiri - karena ada beberapa adegan yang lompatannya terasa sekali. Tapi secara keseluruhan, saya puas dengan film ini. Pesan yang ada di buku bisa tersampaikan dengan sangat liris. Manis. Lugu.

Cuma, saya agak merasa kurang nyaman dengan suasana menonton tadi siang.

Pertama, ketika saya dan kekasih akan memasuki studio, ada ibu-ibu membawa anak didiknya dan ribut-ribut soal tiket dengan mbak-mbak petugas.

Kedua, begitu sampai di studio, saya melihat kursi saya ada yang menduduki. Saya heran, apa saya ya, yang salah. Oh, ternyata kursi saya benar, lalu saya bertanya pada mbak berjilbab yang menduduki kursi saya. Mbak tersebut akhirnya pindah duduk di sebelah kanan pacarnya, tiga kursi dari tempat saya. Yang membuat saya heran, ketika beberapa menit film dimulai, ada dua orang lain datang, dan mbak ini pindah lagi, sampai akhirnya mereka berdua (si mbak dan pacarnya) beranjak dari deretan saja, dan ikut berkerumun di tangga, bareng sama beberapa orang yang diantaranya adalah ibu-ibu dan anak-anak balita. Menyebalkan, non?

Apa mereka ini tidak pernah nonton bioskop? Apa mereka tidak mengecek tempat duduknya sebelum masuk? Kan nomor dan posisi kursi itu tertulis dengan sangat jelas di tiket masuk? Dan di dalam studio?

Dan kerumunan di tangga itu masih berdiri sampai kira-kira 5 menit sesudahnya. Tentu saja ini sangat mengganggu konsentrasi saya dan pacar, juga orang-orang lain di sekeliling kami.

Beberapa waktu, suasana tenang dan saya mulai hanyut mengikuti jalan ceritanya. Sampai kursi di belakang saya diduduki entahlah, keluarga muda barangkali, karena ada anak kira-kira satu tahun yang diajak. Berisiknya minta ampun, si balita terus menendang-nendang kursi saya, dan rasanya sangat tidak nyaman.

Beberapa kursi di seberang saya, ada suara yang tak kalah mengganggu. Wah, ternyata ada pria setengah baya yang sedang berbicara lewat ponsel. Kalau memang ada urusan yang nggak bisa ditunda, kenapa nekat masuk studio, pikir saya kesal.

Setiap kali saya masuk studio buat nonton film, atau nonton pertunjukan, bahkan ke ruang kuliah sekalipun, saya selalu mengingatkan diri untuk menghidupkan silent mode di hp saya. Barangkali beberapa dari kita masih perlu belajar bertoleransi, bahwa orang lain punya hak untuk menikmati film tanpa gangguan.

31 October 2008

buatlah kontroversi, lalu masuk tivi

Kemarin, beberapa jam duduk dan menonton tayangan televisi, saya dilanda kebosanan. Mengapa? Karena dalam beberapa jam itu, berita yang ditayangkan relatif sama. Mengenai heboh pernikahan seseorang (yang menyebut dirinya) syekh dengan gadis (sangat) muda, masih berusia 12 tahun. Detailnya seperti apa, barangkali tidak perlu saya ceritakan. Toh, semuanya juga pasti sudah membaca atau melihat dimana-mana.

Yang sedikit membuat saya mikir, adalah betapa hebohnya berita tentang perkawinan ini. Eksploitasi media seakan tak ada habisnya. Padahal, yang namanya perkawinan itu kan hal yang biasa. Yang selalu tidak biasa adalah, manusianya. Si pembuat kontroversi. Dan manusia semacam ini memang selalu ada.

Menariknya, hal ini juga menguntungkan berbagai pihak. Pakar kesehatan reproduksi, tokoh agama, ulama, organisasi-organisasi wanita dan masih banyak orang dari banyak bidang yang dinilai berkaitan turut angkat bicara, menelaah kasus ini dari berbagai perspektif. Mau tidak mau, media juga akan memusatkan perhatian kepada mereka. Disadari ataupun tidak, permasalahan ini menjadi jembatan antara para pakar dan tokoh dengan publisitas media.

Satu lagi yang saya amati sejak dulu. Banyak sekali permasalahan yang terjadi di negara ini. Tapi, yang berhasil mencuat dan menempati posisi teratas yang paling banyak dibicarakan orang biasanya permasalahan seputar alat kelamin. Entah itu poligami, selingkuh dan lain-lain sejenisnya. Hal serupa diungkapkan Andrea Hirata dalam salah satu novelnya, testosteron adalah alasan nomor satu bagi banyak tingkah laku kejahatan.

15 September 2007

kepada mereka kita berhutang pahala

Hm... nggak terasa ya, ramadhan lagi. Bagi saya, bulan ini selalu sama. Namun, karena datangnya sebulan sekali ya, mau nggak mau itu menjadikannya istimewa. Kalau buat saya, itu juga berarti nambah isi kantong karena harus siaran pagi, nemenin orang-orang sahur.

Sayang sekali, saya nggak bisa membuka ramadhan kali ini. Biasa, urusan dari ladies room. Tapi ketika berangkat kerja menjelang maghrib di hari pertama, saya melihat hari itu sudah beda dari hari-hari sebelumnya. Jalanan lengang, karena barangkali sebagian kantor memperpendek jam kerjanya. Semua kursi restoran, warung, rumah makan yang saya lewati penuh sesak. Dari makanan padang, warung ikan bakar hingga steak.

Dan saya lihat, semua karyawannya rata-rata sibuk melayani tamu-tamu ini sehingga tidak ada kesempatan untuk menyiapkan menu berbuka mereka sendiri. Barangkali banyak di antara mereka juga yang berpuasa. Dan mereka harus memperlambat jadwal buka untuk menyiapkan menu buka puasa untuk orang lain. Meskipun saya nggak yakin pahala bisa dihitung-hitung, tapi sadar nggak sih, kalau kita berhutang sesuatu sama mereka? Apapun itu namanya.

Oh ya, satu hal lagi yang khas dari bulan puasa. Apalagi kalau bukan kolak pisang. Meskipun ada es cincau, es campur, cocktail atau aneka menu buka yang lebih menggiurkan, rasanya kok kurang afdol kalau tidak ada kolak pisang ya? Dan meskipun kemarin saya tidak ikut berpuasa, I was dying so much to eat kolak pisang, sampai harus merayu mas-mas penjual pulsa untuk mengetok pintu penjual kolak pisang yang sudah membereskan dagangannya. And guess what? I was lucky :)

PS: Selamat berpuasa buat semuanya...

22 August 2007

tentang bapak murah senyum

Saya tak pernah tahu namanya, meski tiap hari bertemu. Usianya sekitar 70 tahun, dan ketika tersenyum, beberapa giginya terlihat telah tanggal. Setiap kali kami bertemu, saya selalu melihatnya melakukan sesuatu untuk mempercantik masjid. Menyapu, mengepel, membersihkannya dari dedaunan, mengelap kaca jendela, apa saja. Dan mesjid bercat hijau itu memang selalu terlihat cantik, bersih dan terawat.

Awalnya saya tak pernah menyadari keberadaan bapak ini. Hanya saja setiap saya lewat dia selalu tersenyum dan menganggukkan kepala kepada saya. Satu hal yang tidak aneh kalau kalian tinggal di Jogja. Beberapa menit kemudian saya sudah akan melupakannya. Wajahnya tergantikan oleh lalu lalang kendaraan yang saya lihat ketika menyebrang jalan, kertas-kertas pekerjaan dan monitor komputer.

Lama kelamaan, bapak ini mulai menyapa saya.

"Berangkat, mbak?" atau "Baru pulang?"

Dan saya membalasnya dengan anggukan. Sekali waktu saya membalasnya dengan mengatakan "Iya. Mari, Pak!". Tidak pernah lebih dari itu. Tapi saya mulai sedikit memperhatikan.

Setiap pagi sekitar jam setengah delapan, ia akan menyapu jalanan di sekitar masjid, sementara seorang wanita berumur yang kemungkinan adalah istrinya akan tiduran di atas karpet di emperan masjid, tepat di bagian yang terkena paparan sinar matahari. Barangkali dokter yang menganjurkan. Bapak ini saya perhatikan selalu mengenakan baju yang sama. Beberapa T-shirt bergambar partai dan foto calon presiden, yang barangkali didapatnya secara gratis sewaktu musim kampanye dulu. Juga celana pendek dan sepasang sendal jepit usang.

Kemarin, kebetulan saya pulang sedikit lebih awal dan sempat berpapasan dengan mereka yang selesai sholat jamaah di masjid. Bapak ini termasuk dari salah satu jamaah tersebut. Saya memperhatikan dia yang... tampak lain. Memakai kemeja rapi, dengan sarung yang tampak bagus (mungkin yang paling bagus yang dimilikinya). Dan ia tidak bersendal jepit, melainkan memakai selop yang terlihat masih baru. Barang ini belum tentu baru, mungkin karena hanya dikenakan di saat-saat spesial saja sehingga terlihat masih baru.

Terus terang saja, saya jadi kagum luar biasa dengan bapak ini. Dan merasa sedikit tertampar. Di saat saya, atau mungkin kalian yang notabene memiliki berpasang-pasang alas kaki saja, setiap ke masjid pasti akan mengenakan sendal jepit yang paling jelek dengan alasan takut dicuri, bapak ini menunjukkan keteladanan dengan mengenakan hal-hal terbaik yang ia punya di saat yang baginya spesial. Saat beribadah.

Barangkali besok, lusa atau entah kapan, saya harus mengatakan lebih dari sekedar "Mari, Pak!"