Showing posts with label tentang mengenang. Show all posts
Showing posts with label tentang mengenang. Show all posts

18 December 2008

riwayat secangkir kopi

Belum lama ini, atasan saya meninggal. Mengejutkan memang, mengingat tiga hari sebelum meninggal, saya masih melihat beliau, dan terlihat bagi saya saat itu kondisinya masih baik-baik saja. Saya pulang tanpa pamit kepadanya, karena aya pikir, toh kami maih aling akan bertemu lagi. Dan memang takdir adalah sebuah misteri besar. Siapa yang menyangka, tiga hari setelahnya, ketika saya jalan-jalan di museum, begitu membuka inbox setelah beberapa waktu handphone saya tinggalkan di loker, berita tersebut datang dengan begitu mengejutkan.

Ada banyak sekali kenangan mengingat kami berinteraksi setiap hari. Barangkali secara emosional saya tak terlalu dekat dengan beliau, tidak seperti beberapa teman penyiar lain. Tapi karena setiap hari kami bertemu, ada perasaan kehilangan yang aneh ketika tak lagi melihatnya di kantor.

Bukan tentang itu yang akan saya tulis sebenarnya. Saat ini, saya sedang menikmati secangkir kopi. Beberapa yang tertinggal dari yang sudah pergi, atau yang memilih pergi. Gulanya, berasal dari peninggalan atasan saya. Saya masih bisa mengingat beberapa waktu sebelum beliau meninggal, saya pernah meminta gula kepadanya.

Sedangkan kopi, tentu saja milik sahabat saya yang saya ceritakan di posting sebelumnya. Kalau kebetulan bertemu di kantor, biasanya kami menghabiskan waktu dan saling menceritakan hal nggak penting. Sungguh, saya akan merindukan saat-saat itu.

27 February 2008

putih abu-abu

Inget nggak, waktu kita dulu masih memakai seragam putih abu-abu? Ketika otak belum dipenuhi dengan hal-hal semacam deadline, atau kita nggak perlu pusing ketika ditanya 'kapan nikah?', secara juga nggak bakal ada yang nanya. Atau alih-alih membenci hari Senin seperti sekarang, waktu masih berkostum putih abu-abu, saya paling menunggu datangnya hari Senin, soalnya bakal ketemu sama temen-temen.

Ganti gebetan seperti ganti tas, bikin geng cewek yang suka ngecengin kakak kelas saat istirahat, minta ijin ke belakang padahal ke kantin, dan hal-hal lain yang kalau kita pikir sekarang, rasanya tolol. Misalnya mengoleksi poster-poster boysband yang pernik-pernik lain seperti pin up, loose leaf, gantungan kunci dan sticker (Dulu saya ngefans banget sama The Moffats. Mereka bukan boyband, tapi karena personilnya rata-rata berwajah segar, oleh satu majalah, akhirnya masuk kategori boyband juga). Atau duduk-duduk di lapangan sewaktu jam olahraga, sementara anak-anak cowok sibuk saling berebut bola, kami para gadis membicarakan episode terbaru Dawson's Creek.

Itu cerita di sekolah. Di rumah lain lagi. Dengerin radio gaul, dan konsentrasi pada si penyiar yang kalau di dengar dari suaranya punya tampang oke, sambil bermimpi jadi penyiar radio (dan jadi kenyataan ;p). Besoknya di sekolah, menggosip tentang apa yang disampaikan si penyiar ganteng ke teman-teman satu geng.

Untuk soal asmara, geng putih abu-abu tidak pernah mau repot-repot mikir. Tidak pernah repot menganalisis hubungan, belum juga mengenal istilah Mars and Venus. Saya pernah naksir temen sekelas yang jadi idola di sekolah. Saya masih kelas 1 waktu itu. Di kelas tiga, kebetulan saya duduk sebangku dengannya, dan kami menjadi sahabat. Tidak ada istilah canggung seperti ketika kita yang sekarang ini harus berhadapan dengan mantan pacar.

Dan kenapa saya tiba-tiba teringat masa-masa tanpa beban itu? Karena saya baru saja menemukan profil gebetan saya di masa SMA. Tidak hanya satu, melainkan dua. Satu masih lajang dan lumayan dekat secara geografis, satu lagi ternyata sudah punya junior. Hahaha...saya ketinggalan rupanya...

04 August 2007

anak-anak memang aneh

Membaca blog ini, saya jadi dingatkan akan hal konyol yang (tanpa sadar) suka saya lakukan waktu masih anak-anak dulu. Kalau ibu atau bapak saya cerita, kadang saya nggak bisa menahan tawa sekaligus airmata. Aduh, dulu waktu kecil (katanya) saya nuaakkal minta ampun. Suka nangis meraung-raung sampai merepotkan seisi rumah. Meskipun udah gede sih masih sering nangis juga, tapi kan lain nangisnya ketika habis nonton film misalnya.

Selain nakal, juga sering konyol kalau dipikir-pikir. Yang sampai sekarang masih sering diingat sama saudara-saudara saya, adalah ketika saya nangis gara-gara merasa ada ayam jago yang melototin saya. Yaelah, ayam gitu, yang caranya memandang ya.... kayak ayam memandang. Coba deh, kalian perhatikan, kayak apa sih ayam kalau lagi melihat kita, manusia? Biasa aja, kan? Nah, di sinilah mungkin keliatan kalau saya dari kecil kadang suka sensi.

Dan satu kebiasaan yang (kalau diingat sekarang) menjijikkan. Ngemut ujung bantal, sampai nggak berbentuk. Kalau bisa membayangkan, ujung-ujung bantal saya dulu, warnanya sampai kusem-kusem nggak jelas gara-gara keseringan diemut. Jijik, bukan? Beraninya ngomong jijik ya sekarang. Kalau dulu mah, seneng-seneng aja bawa bantal itu kemana-mana.

Anyway, kalian pernah kecil juga, kan? Pasti juga punya banyak kejadian konyol bin menjijikkan yang masih diingat. Hayuk, berbagi cerita...