Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

15 August 2007

dalam setiap detik yang berharga

'Setiap detik yang lewat memiliki arti'. Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan quotation tersebut. Yang jelas, kalimat itu kerap menggenang di benak saya tiap kali saya terburu-buru.

Kadang-kadang saya baru terjaga pagi ketika jarum jam menunjuk sebelah kiri angka tujuh. Meskipun dua alarm sudah menyala, namun kadang mata masih enggan untuk berinteraksi dengan udara. Kalau sudah begitu, saya terpaksa memampukan diri untuk memadatkan aktivitas yang biasanya memakan waktu tiga puluh menit hingga menjadi sepertiganya. Tangan kanan menyemprot, sementara yang kiri memoles. Memakai lipstik ketika kaki menyelip di sepatu sembari membuka pintu.

Pada saat-saat seperti itulah saya sadar, betapa waktu adalah sesuatu yang aneh. Ia tak punya kaki, tapi pintar mengejar. Sesuatu yang tak bisa diukur. Kita memang mengenal istilah detik dan bisa menyebut dengan jelas angka yang tertera pada jam analog di layar ponsel, tapi bagaimana kita bisa menterjemahkan rentang yang terlewati ketika kita sedang menunggu sesuatu misalnya. Berapakah itu 'lama' dan 'sebentar'?

Banyak hal yang bisa terjadi dalam hitungan detik yang berlalu. Wajah masam jadi tersenyum, bunga kuncup jadi mekar, balon yang tiba-tiba meletus, kopi yang perlahan mendingin,lagu yang tiba-tiba selesai...

Dan betapa kita sering membiarkan diri kita dikuasai ruang kosong. Tidak berpikir maupun bertindak, mengabaikan sejumlah detik yang seharusnya bisa menjadi sesuatu yang berharga.

06 August 2007

appreciating little things

Minggu malam, seorang gadis berjalan sendirian sepulang kerja. Jarum jam telah menunjukkan beberapa menit berlalu dari jam 11. Tampaknya si gadis sangat kelelahan dan selama sehari penuh, yang bisa ia bayangkan hanyalah tempat tidurnya, yang tidak sebegitu besar, juga kurang empuk, namun di saat-saat tertentu begitu dirindukan.

Dua hari belakangan, jadwal kerja-tidur-makan saya memang kacau luar biasa. Harus melaporkan langsung satu acara besar yang tercatat dalam rekor muri, sementara tidak bisa bolos juga dari tempat kerja satunya. Belum lagi, sahabat saya yang tiba-tiba minta digantikan siaran pagi buta karena harus kondangan ke luar kota, yang akhirnya membuat saya rela untuk tidur di lantai dingin tanpa selimut demi menjaga agar badan yang capek ini tetap bisa terjaga ketika waktu bekerja tiba.

Pada saat-saat seperti itu, entah kenapa saya baru bisa mensyukuri hal-hal yang sudah seharusnya saya syukuri setiap saat. Tapi ingatan saya terbatas. Saya susah mengingat bahwa tempat tidur saya yang bisa-biasa saja, ternyata masih jauh lebih bagus daripada lantai yang cuma dialasi karpet tipis. Tanpa bantal dan selimut.

Juga bahwa waktu tidur saya bulan lalu, yang hanya dua atau tiga jam per malam karena terpotong telpon tengah malam dan harus bangun tiap jam 4 pagi masih lebih baik dari pada tidur setiap satu jam di sela-sela pergantian pekerjaan. Bahwa udara mendung dan lembab masih jauh lebih baik daripada hujan angin yang sering menghambat aktivitas kita.

Dan kalau kita mau mengingat, akan ada banyak bahwa lagi yang bermunculan yang membuat kita selalu bersyukur. Ternyata hal-hal yang kita anggap kecil itu berguna hanya karena mereka ada.

04 August 2007

working on weekend

Hm... dengernya aja males kan? Tapi begitulah. Sedianya pengen istirahat aja, nonton film yang numpuk di kamar, tapi apa daya ketika ternyata ada banyak tugas memanggil, teteup tak kuasa menolak.

Jadilah, Sabtu Minggu ini saya berada di crowdednya acara yang meraih penghargaan Muri. Berlomba-lomba dengan media lain, mencari dan mendapatkan dan akhirnya ngobrol dengan orang-orang penting di balik sukses acara itu.

Belum lagi sahabat keluar kota yang membuat saya terpaksa mengurangi jadwal tidur karena harus menggantikannya menemani pendengar di tengah malam. Dan kalau saya ngeluh sama ibu di seberang telpon sana, pasti beliau akan bilang 'namanya juga cari duit'. Yeah...

31 July 2007

The Shawsank Redemption

Film yang dirilis di tahun 1994. Film yang mendapat tujuh(!) nominasi Oscar termasuk kategori Best Picture. Film yang ada di urutan nomor dua di daftar film paling bagus di imdb.com setelah The Godfather Part I. Film yang dari dulu pengen banget saya tonton. Film yang akhirnya ada di tangan saya yang entah kenapa selalu tertunda untuk saya tonton. Dari belasan film yang saya pinjam, film ini yang terakhir saya tonton. Entah karena males mikir berat, atau menunggu saat yang tepat ketika saya sedang rileks-rileksnya sehingga bisa benar-benar menikmati.


Film ini sebenarnya berasal dari cerita pendek Stephen King yang judul panjangnya Rita Hayworth and The Shawshank Redemption. Hanya ada beberapa perempuan yang bermain dalam film ini, itupun dalam peran yang tidak begitu penting. Pegawai bank, pelayan toko, pemilik rumah, istri tokoh utama yang menjadi korban pembunuhan, yang semuanya muncul tak lebih dari semenit. Jadi saya tidak merekomendasikan film ini untuk Anda yang mencari romance ala Gone With The Wind atau The Way We Were.
Oh, ada tiga aktris besar yang wajahnya ikut terlihat. Rita Hayworth, Marilyn Monroe dan Raquel (Welch, mungkin. Saya tak terlalu ingat, lagipula waktu dia mulai menjadi ikon,saya belum lahir). Mereka bertiga terpampang dengan seksinya di dinding sel Andy Dufresne, sang tokoh utama.



Awalnya ketika tahu ini adalah film bersetting penjara, saya pikir mungkin akan seperti menonton The Green Mile. Ternyata berbeda, sangat berbeda. Kalau Green Mile sedikit kurang masuk akal bagi saya (meski kekurang masuk akalan itu terhapus oleh sisi humanis yang juga ditampilkan dengan luar biasa), Shawshank benar-benar...apa ya kata yang tepat untuk menggambarkannya...logis. Dan humanis, tentu saja.


Saya tidak bisa menceritakan bagaimana perasaan saya ketika menontonnya. Perasaan saya mengalir (seperti ketika nonton The English Patient dan A Beautiful Mind, tapi kali ini lebih kompleks) sepanjang saya menonton, menikmati narasi yang rapi oleh Morgan Freeman. Saya menangis, tertawa, mengernyit, sekaligus terkejut. Sampai di tengah film, saya pikir (lagi), film ini akan berkisah tentang sosok inspirasional seperti Michelle Pfeiffer di Dangerous Minds, atau Julia Roberts di Mona Lisa Smile, atau Robin Williams di Dead Poet Society. Ternyata, ceritanya berkembang jauh sekali dari tebakan saya.


Banyak quotation yang mengena di hati, atau pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya saya kembalikan pada diri saya. Tentang harapan, tentang menghadapi kenyataan, tentang pengorbanan, tentang persahabatan.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menjadi mereka yang keluar dari bui setelah puluhan tahun mereka terkurung di dalam tembok? Seperti yang dilakukan Brooks, bapak tua yang telah berada di penjara Shawshank selama 50 tahun, yang akhirnya mendapat kebebasannya. Dia menyerang salah satu rekan sepenjara agar dianggap belum layak keluar. Brooks merasa akan sulit beradaptasi dengan kehidupan di luar. Di dalam penjara, dia adalah orang penting, sementara di luar sana, ia tak akan menjadi apa-apa. Hanya seorang pria tua dengan tangan yang sudah kaku, yang pernah bersalah dan telah membayar untuk kesalahannya. Beberapa saat menikmati kebebasan, akhirnya pria tua ini memilih bunuh diri.
Mereka yang berada di dalam penjara secara spontan akan terinstitusi. Seperti yang dikatakan Morgan Freeman dalam salah satu percakapan.
"These walls are funny. First you hate 'em, then you get used to 'em. Enough time passes, you get so you depend on them. That's institutionalized."




Ah, begitu film selesai, saya masih diam tak bereaksi. Seperti yang dikatakan seorang teman dalam blognya yang baru saja saya baca, setelah melihat film ini, kita akan berpikir untuk beberapa jam atau beberapa hari ke depan.
Ya, sampai detik ini saya belum berhenti memikirkannya.

27 July 2007

kehilangan memang tak pernah mudah

Setiap kita pasti pernah mengalami putus cinta, penolakan ataupun perpisahan. Nggak enak banget kan rasanya? Bahkan ketika alasannya datang dari ketidaknyamanan kita, putus akan membuat kita lebih tidak nyaman lagi. Biasanya berdua, lantas jadi sendiri. Tiap kali merasa sedih selalu ada yang memeluk, sekarang kita harus mengeluarkan airmata tanpa ada yang menenangkan dengan kecupan di kening. Memang sih, selalu ada teman-teman yang siap menghibur kita. Tapi ada saja hal yang biasa dilakukan pacar yang tak bisa teman lakukan. Bukankah karena itu sebabnya mereka mendapat dua sebutan yang berbeda?

Apapun itu, kesedihan selalu mendatangkan rasa tak menyenangkan. Kehilangan selalu terasa berat. Dan melepaskan selalu menjadi hal yang paling sulit dilakukan. Seringkali hal itu menimbulkan penyesalan juga, pun ketika kita sudah sangat berusaha pada awalnya.

Ketika kakek saya meninggal beberapa bulan lalu, saya merasakannya. Ibu sudah mengabari saya untuk segera pulang, karena sakit kakek telah teramat parah. Tapi dengan seribu alasan, dan kerapkali pembenaran diri, saya terus menunda. Sampai suatu pagi, ada panggilan untuk segera pulang ke rumah. Sulit sekali mencari pengganti saya dalam situasi mendesak begitu. Dan begitulah, dalam perjalanan saya ke tempat kerja, kakek saya sudah terlebih dulu dipanggil-Nya. Saya tak pernah berhenti menyesal, tapi apa yang bisa saya lakukan?

Hal penting lain yang merupakan bagian dari kehilangan adalah penerimaan akan kehilangan itu sendiri. Butuh waktu yang tak sebentar untuk akhirnya kita bisa melepaskan seseorang atau sesuatu dengan legowo.

Semalam, saya mendengar cerita dari seseorang tak dikenal, yang spontan membuat saya menangis. Setelah kami bertukar informasi mengenai film, dia bercerita tentang kehilangan yang pernah dialami. Seorang sahabat, yang kepergiannya begitu mendadak, dan tidak hanya membuat mbak ini menangis dan sering memimpikannya. Tapi dia mengaku masih sering mencoba menelpon nomernya (bahkan ketika ia tahu tidak ada yang akan mengangkat) dan mengajaknya chatting (bahkan ketika dia tahu tidak akan dijawab). Dan mbak tersebut melakukannya dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya. Barangkali dia hanya ingin selalu menghidupkan sosok sahabat ini dalam pikirannya saja. Nah, tidakkah cerita ini membuat kalian menangis juga?