Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

17 September 2008

Fun...fun...fun!!!

Being spontaneous is Fun!! Yup, dengan 'f' kapital. Apalagi bagi saya, yang terbiasa merencanakan sesuatu sampai tiga puluh hari ke depan, kenikmatan bersikap spontan barangkali setara dengan mencium Jude Law. Ahahaha...

Seperti siang ini. Ketika bangun jam sembilan tadi, saya tak menyangka bahwa saya akan menghabiskan siang hari dengan menonton Michael Clayton. Oh, itu benar-benar di luar rencana. Padahal semalam sebelum tidur, saya udah menyusun jadwal di kepala. Ke kantor untuk merekam sesuatu selama kurang lebih satu jam, lalu berangkat ke kampus dan menghabiskan waktu di sana sampai kira-kira ashar. Pulang, menyiapkan makanan buat berbuka, lantas ke kantor (lagi) dan siaran.

Tapi entah kenapa, begitu rekaman selesai, saya menelpon pacar untuk menanyakan sesuatu dan itu malah berakhir ke janjian untuk mengantar saya ke kampus. Iya kalau sampai kampus. Di tengah jalan, tiba-tiba saya bilang:

"Say, gimana kalau kita makan siang aja, dan aku bolos?"

Ah, dan di inilah kami terdampar. Menonton Michael Clayton di 21, akhirnya. Berusaha untuk tidak merasa bersalah karena bolos kuliah (mata kuliah yang kebetulan tak begitu saya suka), dan melupakan bahwa saya udah harus di studio jam 4.

No need to sorry, I had fun. Really.

PS: Makasih, sayang...

02 October 2007

tentang buka puasa yang tak terlupakan

Semalam, saya janjian buka puasa bareng si Devil. Setelah meninggalkan jaket saya di tempat kerja dan ijin buka puasa sebentar, akhirnya kami muter-muter cari tempat makanan. Dulu, setiap kali berangkat kerja, saya selalu melewati satu tempat yang menguarkan bau sedap. Saya mengusulkan tempat itu dan Devil setuju. Dibilang ramai. sebenarnya nggak terlalu. Lagipula, tempat duduk yang disediakan juga tak terlalu banyak.

Kira-kira lima belas menit setelah memesan, tak ada tanda-tanda makanan saya diantarkan. Dua orang datang dan mengambil tempat duduk di sudut dekat kami. Saya dan Devil saling bertukar cerita, dan semakin lama saya merasa cemas. Hampir tiga puluh menit berlalu, pelayan berlalu lalang, dan tak satupun mampir ke meja kami. Kalau begini, saya pasti terlambat bekerja. Sampai akhirnya saya menelpon seseorang di tempat kerja untuk minta perpanjangan waktu.

Begitu melihat dua orang di sudut yang datang lima belas menit setelah saya mulai menikmati pesanannya, saya geram. Saya hendak beranjak, tapi tangan Devil menahan saya. Dia akhirnya yang turun tangan menanyakan pesanan kami.

+ Mbak, kami sudah pesan dari tadi, tapi kok malah mas itu yang lebih dulu dilayani?
- Oh, itu karena mas tersebut memesan xxx
+ Memangnya kenapa kalau mas itu memesan xxx
- Soalnya lebih cepat Mas, bikinnya. Atau Mas mau pesan xxx

F**k! Maaf, kata ini yang keluar, karena saya tak tahu kalau ada ungkapan lain yang memiliki intensitas sama. Lebih menyebalkan lagi, menu yang dihidangkan ternyata salah.

Ketika dengan orang lain, saya pasti bakal menggerutu semalaman, tapi dengan Devil tak pernah sama. Dia membuat saya tertawa dan melupakan semua kekesalan, juga melupakan rasa bersalah karena akhirnya tak jadi berangkat kerja.

Lupakan, dan jangan lagi menginjakkan kaki ke sana. Itu yang akan dia lakukan. Ya, saya juga akan melakukan hal yang sama.

Dan dengan berakhirnya malam, saya menyadari sesuatu. Bolos kerja untuk melakukan hal-hal yang 'absolutely nothing' ternyata sangat menyenangkan.